Minyak Goreng Bekas Diubah Jadi Lem Super, Bisa Tarik Mobil

2026-01-12 06:08:02
Minyak Goreng Bekas Diubah Jadi Lem Super, Bisa Tarik Mobil
- Para ilmuwan berhasil mengubah minyak goreng bekas menjadi plastik perekat yang sangat kuat, bahkan beberapa diantaranya cukup kuat untuk menarik sebuah mobil. Minyak goreng bekas tersebut didaur ulang menjadi berbagai jenis plastik, termasuk salah satunya perekat, yang menjadi polimer bermanfaat sekaligus salah satu langkah berkelanjutan untuk menciptakan material baru. Penelitian tersebut dipublikasikan pada 28 November 2025 di Journal of the American Chemical Society.“Aliran limbah menawarkan alternatif yang berpotensi menarik dibandingkan bahan baku berbasis biomassa untuk pembuatan plastik,” tulis para peneliti dalam penelitian, dikutip dari Live Science, Selasa .Baca juga: Ilmuwan China Dilaporkan Berhasil Bikin Lem Tulang, Perbaiki Patah Tulang Hanya 3 Menit Dok. Shutterstock/k-02 Jelantah atau minyak goreng bekas. Salah satu aliran limbah tersebut adalah minyak goreng bekas yang jumlahnya mencapai hampir 3,7 miliar galon per tahun. Selama ini, limbah minyak tersebut digunakan untuk pelumas, pelapis anti lengket, dan bahan bakar, namun sebagian besar masih dibuang begitu saja.Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan cara untuk mengonversi minyak bekas menjadi material plastik yang bermanfaat, sangat lengket, dan dapat didaur ulang.Minyak sendiri terdiri dari rantai panjang asam lemak yang terikat pada molekul gliserol atau gliserin. Para peneliti memecah molekul minyak tersebut secara kimia, lalu mengubah hasilnya menjadi molekul yang lebih sederhana melalui serangkaian reaksi.Dengan mengombinasikan molekul alkohol dan ester hasil akhir dalam berbagai cara, para peneliti berhasil mensintesis beragam plastik poliester. Molekul ester memiliki atom karbon yang berikatan rangkap dengan atom oksigen dan juga berikatan tunggal dengan atom oksigen lain yang terhubung ke rantai karbon.Baca juga: China Kembangkan Lem yang Bisa Rekatkan Tulang Patah dalam 3 MenitPengujian terhadap sifat plastik, termasuk titik leleh dan tingkat kristalinitas, menunjukkan bahwa polimer tersebut mirip dengan low-density polyethylene (LDPE), yakni jenis plastik yang umum digunakan pada kemasan dan kantong plastik.Namun, poliester ini memiliki sifat sangat lengket berkat atom oksigen dalam struktur polimer yang mampu membentuk ikatan kuat dengan berbagai material.Hal ini berbeda dengan LDPE yang merupakan hidrokarbon dan hanya tersusun dari atom karbon dan hidrogen.Para peneliti menguji kekuatan rekat polimer dengan merekatkan dua pelat baja tahan karat. Hasilnya, pelat tersebut tetap melekat kuat meskipun diberi beban hingga 123 kilogram.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Pendekatan “heritage meets modern” tersebut akan menjadi salah satu strategi utama Bata ke depan. Bata, kata Panos, ingin menghidupkan identitas lama yang disukai generasi sebelumnya, tetapi dihadirkan dengan desain yang sesuai selera generasi baru.Transformasi tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga pada retail experience. Laporan Tahunan 2024 menyebut bahwa seluruh toko Bata kini mengadopsi konsep modern-minimalis Red 2.0.Namun, bagi Panos, esensi modernisasi toko bukan sekadar tampil fashionable.“Bagi saya yang penting adalah membuat belanja lebih mudah dengan cara yang sangat sederhana,” ungkapnya. Ia membayangkan toko Bata sebagai ruang yang tidak berantakan, produk yang terkurasi jelas, dapat memandu konsumen tanpa membuat mereka bingung, serta menampilkan fokus utama pada produk.“Kami akan menaruh usaha lebih besar pada produk dan membimbing konsumen ke produk itu, product first,” katanya.Baca juga: Bukan Merek Lokal, Ini Sosok Pendiri Sepatu BataLaporan tahunan 2024 juga menunjukkan penguatan digital Bata secara signifikan, mulai dari integrasi pembayaran digital (Gopay, ShopeePay, OctoPay, Visa Contactless), kolaborasi dengan key opinion leader (KOL), serta penguatan Bata Club sebagai program loyalitas.Upaya itu sejalan dengan visi Panos untuk membawa Bata lebih dekat ke generasi muda Indonesia. Apalagi, generasi ini berbelanja secara omnichannel dan peka terhadap brand yang punya nilai jelas.Panos menilai, generasi muda juga punya kepekaan terkait asal-usul produk. Menurutnya, konsumen masa kini memperhatikan bagaimana sepatu dibuat, mulai dari aspek keberlanjutan (sustainability), lokasi pembuatan produk, hingga siapa yang mengerjakannya.Bata Indonesia sendiri telah melakukan sejumlah langkah keberlanjutan nyata, seperti optimalisasi konsumsi energi, efisiensi rantai pasok, penggunaan teknologi hemat energi, dan tata kelola material yang lebih baik.“Sustainability bukan sesuatu yang kamu pasarkan. Sustainability adalah sesuatu yang kamu jalani dan kamu wujudkan setiap hari,” tegasnya.Upaya modernisasi Bata, mulai dari kurasi produk, perbaikan toko, hingga penguatan kanal digital, pada akhirnya kembali pada satu tujuan, yakni menjawab kebutuhan konsumen Indonesia hari ini. Setelah melewati masa restrukturisasi, Bata ingin memastikan bahwa setiap langkah transformasi benar-benar berangkat dari pemahaman terhadap perilaku dan ekspektasi masyarakat Indonesia yang terus berkembang.Di sinilah Panos melihat kekuatan besar yang dimiliki Bata selama puluhan tahun di Indonesia, yaitu hubungan emosional yang terbangun secara alami dengan konsumennya.Baca juga: Sepatu Bata, Sering Dikira Produk Lokal Ternyata Berasal dari Ceko“Konsumen Indonesia sangat loyal. Jauh lebih loyal jika dibandingkan banyak konsumen lain di dunia,” kata Panos.Namun, ia mengingatkan bahwa loyalitas bukan sesuatu yang bisa dianggap pasti. “Kami harus relevan untuk konsumen hari ini, lebih terhubung dengan audiens muda, dan membawa mereka kembali masuk ke Bata,” tuturnya. Upaya untuk kembali relevan di mata konsumen tidak bisa berdiri sendiri. Menurut Panos, transformasi Bata hanya bisa berjalan jika dukungan internal juga kuat dan keyakinan dari orang-orang yang bekerja di baliknya.“Setelah Covid, keyakinan itu selalu turun. Padahal, kepercayaan internal itu sangat penting,” katanya.Maka dari itu, Panos ingin seluruh tim melihat arah baru Bata sebagai momentum untuk bangkit bersama.“Kami akan membutuhkan lebih banyak karyawan untuk berkembang dan menjadi lebih kuat di Indonesia,” katanya.Dengan fondasi internal yang diperkuat dan strategi baru yang mulai berjalan, Panos memandang masa depan Bata di Indonesia dengan keyakinan yang besar. Baginya, transformasi yang sedang dilakukan tidak hanya soal restrukturisasi, modernisasi produk, atau pembaruan toko, tetapi juga membangun hubungan yang lebih bermakna dengan konsumen.“Saya berharap ketika datang lagi ke sini, saya bisa merasa bangga terhadap Bata. Bangga melihat Bata tersedia untuk konsumen yang lebih luas, melihat pelanggan datang ke Bata dan bisa merasakan mereka menyukainya,” harapnya.Baca juga: Sejarah Sepatu Bata, Merek Eropa yang Sering Dikira dari IndonesiaIa juga menginginkan pertumbuhan yang tidak hanya tecermin dalam penjualan atau jumlah toko, tetapi juga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai kehadiran Bata setelah lebih dari 90 tahun berada di tengah mereka.“Saya ingin Bata berarti sesuatu bagi Indonesia serta berkata, ‘Saya tumbuh bersama Bata. Bata adalah perusahaan lokal sekaligus global dan Bata mengerti saya’,” katanya. Panos melihat Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan rumah penting bagi perjalanan panjang Bata. Dengan arah baru, strategi yang lebih fokus, dan loyalitas konsumen yang kuat, ia yakin Bata akan kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia untuk waktu yang lama.

| 2026-01-12 04:08