- Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyebut, dunia saat ini tengah menghadapi tiga krisis besar atau triple planetary crisis.Ketiganya, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon (PPITKNEK) KLHK, Ary Sudijanto, mengatakan tingkat krisis yang terjadi, baik di dunia maupun Indonesia, telah mencapai fase yang mengancam keberlangsungan hidup manusia.Baca juga: Beredar Kabar Bibit Siklon 91S Dekati Sumatera lalu Disusul 92S, BMKG Ungkap Dampaknya“Jika masyarakat, termasuk pelaku usaha, tidak melakukan upaya untuk keluar dari krisis ini, umat manusia akan menghadapi ancaman keberadaannya di Bumi,” ujar Ary saat menyampaikan pidato kunci dalam sebuah acara di Jakarta, Kamis , dikutip dari Antara.Menurut Ary, perubahan iklim ekstrem yang pernah memicu kepunahan dinosaurus menjadi peringatan bagi kondisi saat ini.Bedanya, perubahan iklim masa lalu disebabkan fenomena alam tabrakan asteroid, sementara krisis iklim saat ini dipicu oleh aktivitas manusia sendiri.“Perubahan iklim yang sekarang terjadi adalah akibat ulah kita. Berarti kita pula yang harus melakukan upaya untuk mengatasinya,” ujarnya.Baca juga: Ada 500 Ton Lebih Bantuan dari Warga yang JNE Bantu Kirim ke Korban Bencana SumateraAry mencontohkan bencana hidrometeorologi di Sumatera pada akhir November lalu sebagai bukti nyata dampak krisis iklim.Fenomena siklon tropis yang sebelumnya tidak pernah muncul di kawasan tersebut kini mulai terdeteksi.“BNPB menyatakan butuh Rp 52 triliun untuk memulihkan infrastruktur. Celios menyebut pemulihan lingkungannya butuh Rp 50 triliun,” kata Ary.Ia menegaskan bahwa upaya transisi energi, termasuk penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), bukanlah beban, melainkan langkah penting untuk melindungi diri dari ancaman perubahan iklim.Baca juga: Muncul Bibit Siklon Baru 92S Usai 91S Terpantau Dekati Sumatera, Ini Penjelasan BMKGAry juga menekankan bahwa transisi energi bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga kepentingan dunia usaha.Bencana iklim yang semakin sering terjadi akan menghambat aktivitas bisnis dan mengganggu rantai produksi.“Dengan kejadian bencana hidrometeorologi di Sumatera bagian utara, pasti ada gangguan dan pukulan bagi aktivitas bisnis di sana,” ujarnya.Menurut Ary, perubahan perilaku, kepatuhan terhadap standar lingkungan, serta percepatan transisi energi perlu segera dilakukan untuk mencegah dampak lebih buruk dari krisis iklim yang sedang berlangsung.Baca juga: Bibit Siklon Tropis 91S Terbentuk di Samudra Hindia, 3 Wilayah di Pulau Sumatera Berpotensi Hujan Lebat
(prf/ega)
Kementerian Lingkungan Hidup: Perubahan Iklim Terjadi akibat Ulah Kita
2026-01-13 00:16:59
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 00:30
| 2026-01-13 00:24
| 2026-01-13 00:07
| 2026-01-12 22:42
| 2026-01-12 22:19










































