Tak Mau Anak Magang Dieksploitasi, Ini Arahan Menaker

2026-02-02 06:54:54
Tak Mau Anak Magang Dieksploitasi, Ini Arahan Menaker
JAKARTA, - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyatakan pihaknya tidak mau peserta program magang nasional menjadi obyek eksploitasi pihak perusahaan. Pernyataan ini Yassierli sampaikan saat menjelaskan terkait penambahan kuota magang nasional batch II yang kini ditambah menjadi 80.000. Yassierli mengingatkan, pengawasan pelaksanaan program ini penting dilakukan agar kebijakan ini tidak disalahgunakan. “Kita tidak ingin magang dijadikan sarana eksploitasi,” kata Yassierli dalam keterangan resminya, Senin . Baca juga: Pemerintah Buka 80.000 Kuota Magang Nasional Batch 2, Ini Jadwalnya Yassierli menuturkan, Kementerian Ketenagakerjaan telah menyiapkan sistem monitoring dan evaluation (Monev) hingga kanal pengaduan. Melalui platform itu, peserta magang nasional harus mengisi kegiatan mereka setiap hari. “Setiap peserta wajib mengisi aktivitas harian di platform yang disiapkan, dan instansi maupun perusahaan wajib menyediakan mentor untuk membimbing mereka,” ujar Yassierli. Baca juga: Menaker Ajak Dunia Usaha Berperan dalam Magang Nasional Batch 2 Ia menyebut, pada batch kedua ini, peserta tidak hanya akan magang di perusahaan. Mereka jyga bisa mengikuti magang di instansi pemerintah seperti kementerian.lembaga dan unit kerja vertikal di daerah. Kebijakan ini membuat lulusan perguruan tinggi bisa memiliki lebih banyak pilihan saat ingin mengikuti program magang nasional. Adapun masa magang batch ke II ini akan berlangsung selama enam bulan.  Peserta bakal mendapatkan uang saku yang disetarakan dengan upah minimum kabupaten/kota, jaminan BPJS yang meliputi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM). Baca juga: Ekonom Minta Pemerintah Pastikan Nasib Fresh Graduate Setelah Magang: Jangan Sampai Nganggur Lagi Lebih lanjut, Yassierli menyebut, penyelenggara magang batch II bisa mulai mendaftar pada nilai 24 Oktober hingga 6 November 2025. Sementara, peserta magang bisa mulai mendaftar pada 6 hingga 12 November 2025. Mereka kemudian akan diseleksi pada 13 hingga 20 November 2025. Hasilnya lalu diumumkan pada 21 November 2025. Pemagangan lalu dibuka pada 24 November 2025.  “Antusiasme dari para lulusan sangat besar. Kami berharap kuota Batch II dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan di seluruh daerah,” ujar Yassierli.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-02 06:04