TAPANULI SELATAN, - Banjir bandang yang menghancurkan Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, menyisakan misteri dan trauma bagi para warga.Bukan sekadar air bah, warga memberikan kesaksian ganjil mengenai detik-detik sebelum rumah mereka rata dengan tanah.Gelondongan kayu disebut datang lebih dulu menghantam permukiman, sebelum akhirnya disusul oleh gulungan air bah yang mematikan.Ida Rohana Simamora, salah satu korban selamat yang rumahnya kini lenyap tak berbekas, menceritakan momen horor tersebut."Kayu yang besar, barulah ikut air besarnya lagi. Kayu sama air besar lah sekaligus," ujar Ida saat ditemui Kompas.com di lokasi, Sabtu .Baca juga: Cerita Warga Desa Garoga Hanyut hingga Desa Seberang Saat Banjir Bandang Tapanuli SelatanMenurut Ida, awalnya terdengar suara gemuruh dari atas gunung, lalu disusul hantaman longsor dan kayu yang menjadi awal petaka.Kayu-kayu tersebut menggelinding dari arah hulu sungai, menghancurkan dinding-dinding rumah warga menjadi rata dengan tanah."Itu yang didorong itu ke sana semua. Iya, diratakan (sama kayu dan air). Hanyut terbawa air, enggak ada yang bersisa," tutur Ida sembari menunjuk lahan kosong penuh lumpur yang dulunya adalah tempat tinggalnya./Ridho Danu Prasetyo Warga Desa Garoga, Tapanuli Selatan berjalan kaki melewati akses jembatan yang terputus sambil memanggul makanan dan logistik ke posko pengungsian, Sabtu Nurbaiti, warga Desa Garoga lainnya, mengaku heran dengan fenomena ini.Sebagai penduduk asli yang telah lama bermukim di sana, ia mengatakan banjir memang kerap terjadi, namun tidak pernah membawa material kayu, apalagi dalam ukuran besar."Itulah yang enggak tahu aku. Entah dari mana kayu-kayunya. Seringnya banjir segini-segini, tapi enggak pernah datang kayu-kayu gitu loh," ungkap Nurbaiti.Biasanya, kata Nurbaiti, banjir di desanya hanya setinggi 50 sentimeter (cm) atau setara betis orang dewasa dan cepat surut, sehingga tidak ada kerusakan berarti dalam kejadian-kejadian sebelumnya.Baca juga: Garoga: Desa yang Hilang Tersapu Banjir dan Longsor di Tapanuli Selatan, Kondisinya Kini"Biasanya segini (sebetis), awalnya pun datang segini. Tapi cepat dia surutnya," jelasnya.Namun kali ini, rumah Nurbaiti rusak parah. Dua kamar tidur di bagian depan dan halaman rumahnya hilang disapu material kayu dan lumpur.
(prf/ega)
"Kayu Dulu, Baru Air", Kesaksian Mencekam Warga Garoga Saat Desa Diratakan Banjir Bandang Tapsel
2026-01-12 07:09:25
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:01
| 2026-01-12 06:52
| 2026-01-12 05:42
| 2026-01-12 04:56










































