Kapolda Metro Jaya Minta Anak Buah Petakan Daerah Rawan Bencana

2026-01-16 13:25:48
Kapolda Metro Jaya Minta Anak Buah Petakan Daerah Rawan Bencana
Jakarta - Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri meminta seluruh personelnya selalu siap menghadapi segala kemungkinan bencana yang dapat terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya.Hal itu disampaikan Asep saat memberikan sambutan dalam apel kesiapsiagaan tanggap darurat bencana di Lapangan Presisi Ditlantas Polda Metro Jaya, Rabu .Apel tersebut diikuti sebanyak 715 personel gabungan dari Polri, TNI, BNPB, Basarnas, dan BPBD.Advertisement"Seluruh personel dan stakeholder dapat terlibat untuk bersinergi secara sigap, cepat, dan tepat dalam menghadapi berbagai potensi bencana ke depan demi menjamin terlindunginya keamanan dan keselamatan masyarakat," kata Asep membacakan amanat Kapolri, Rabu .Apel kesiapsiagaan itu digelar serentak di seluruh Indonesia. Tujuannya, menurut Asep, untuk mengecek kesiapan personel dan perlengkapan dalam menghadapi berbagai potensi bencana, terutama banjir, tanah longsor, dan angin kencang.Berdasarkan data BNPB, hingga Oktober 2025 tercatat 2.606 bencana di tanah air. Rinciannya, terdiri dari banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan, tanah longsor, gempa bumi, dan erupsi gunung berapi. Akibatnya, 361 orang meninggal dunia, 37 orang hilang, serta lebih dari 5 juta jiwa harus mengungsi."Dampak bencana alam tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis serta mengganggu keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat," terang Asep.Dia menekankan pentingnya langkah komprehensif, responsif, dan berkesinambungan dalam upaya pencegahan serta penanggulangan bencana.Asep menginstruksikan setiap satuan di jajaran Polda Metro Jaya agar melakukan pemetaan wilayah rawan bencana secara berkelanjutan, bekerja sama dengan berbagai pihak terkait di masing-masing daerah. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 11:54