Fetriza Rinaldy (INA): Menjaga Nyawa Investasi Negara lewat ESG

2026-01-15 05:06:28
Fetriza Rinaldy (INA): Menjaga Nyawa Investasi Negara lewat ESG
JAKARTA, - Siapa sangka latar belakang biologi justru menjadi salah satu kunci dalam menjaga kualitas investasi negara. Fetriza Rinaldy, Vice President of Sustainability di Indonesia Investment Authority (INA), membuktikan bahwa ilmu lingkungan dapat berperan strategis dalam dunia keuangan, terutama untuk memastikan investasi tetap menguntungkan tanpa merusak alam. Berangkat dari pendidikan Biologi Lingkungan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan gelar Magister (S2) dari Technische Universität München, Jerman, Fetriza membawa sudut pandang yang berbeda ke dalam lembaga pengelola investasi negara. Baginya, ekosistem alam dan ekosistem investasi memiliki kesamaan mendasar: keduanya sama-sama rapuh jika dikelola secara serampangan. Kerusakan satu unsur dapat memicu efek berantai yang pada akhirnya merugikan keseluruhan sistem. Baca juga: Bye-bye Impor! Indonesia Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN Pengalaman lebih dari 14 tahun di bidang keberlanjutan dan ESG mengasah kepekaannya terhadap risiko jangka panjang. Ia menilai bahwa banyak risiko finansial berakar dari persoalan lingkungan dan sosial yang diabaikan sejak awal. Karena itu, di INA, prinsip ESG tidak ditempatkan sebagai pelengkap, melainkan sebagai bagian dari mandat utama lembaga. Dalam praktiknya, Fetriza berperan penting dalam meletakkan fondasi pengembangan dan implementasi kerangka kerja ESG untuk Sovereign Wealth Fund (SWF) pertama Indonesia. Setiap keputusan investasi, menurutnya, harus melalui proses uji tuntas yang mempertimbangkan dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola. Proses tersebut berlanjut hingga tahap pemantauan portofolio, untuk memastikan risiko-risiko non finansial tetap terkendali sepanjang masa investasi.Baca juga: Bukan Sekadar Modal, Investasi INA di Tol Tekan Pelanggaran 40 Persen Dalam program Naratama Kompas.com: "Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA", yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin, Fetriza menegaskan penerapan ESG di INA bukan sekadar inisiatif tambahan atau respons terhadap tren global. Lembaga investasi milik negara itu meletakan ESG sebagai bagian yang penting dari mandat utama INA. Prinsip ini menempatkan kehati-hatian sebagai fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan investasi, sehingga tidak ada ruang bagi langkah yang bersifat spekulatif atau “ugal-ugalan”. “Di internal INA, ESG adalah bagian dari mandat. Pengambilan keputusan tidak boleh "ugal-ugalan",” ujar Fetriza. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dipandang memiliki risiko material yang nyata dan dapat berdampak langsung terhadap kinerja investasi apabila diabaikan. “Ketiga aspek itu punya risiko material. Jadi, dari mulai due diligence (uji tuntas) hingga monitoring portofolio, aspek ESG selalu kami integrasikan,” paparnya.Baca juga: Laporan LPEM UI: Investasi INA Ubah Infrastruktur Jadi Nilai Ekonomi dan SosialINA saat ini mengelola aset lebih dari 10 miliar dollar AS. Dalam skala sebesar itu, konsistensi penerapan ESG menjadi krusial. Menurutnya, pendekatan disiplin dan transparan inilah yang menarik minat mitra global.Investor internasional semakin menyadari investasi dengan tata kelola yang baik dan perhatian pada keberlanjutan cenderung memberikan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang. “Menariknya, bagi mitra global, konsistensi kami dalam tata kelola dan transparansi justru menjadi daya tarik utama. Mereka melihat bahwa investasi dengan tata kelola yang baik akan menghasilkan imbal hasil yang lebih stabil dalam jangka panjang,” lanjut Fetriza. Melalui perannya di INA, Fetriza berupaya menerjemahkan visi keberlanjutan ke dalam strategi yang konkret dan terukur.Ilmu biologi yang dulu mempelajari relasi manusia dengan alam kini ia aplikasikan untuk menjaga “nyawa” investasi negara.Baca juga: Total Investasi INA Rp 65,4 Triliun hingga Mei 2025


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Angkringan Balap Paseban viral karena keragaman menu dan suasananya yang selalu ramai.Menu andalan berupa nasi kucing dengan pilihan lauk seperti tempe, sambal usus, sambal teri, hingga ayam geprek menjadi favorit pengunjung.Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, berkisar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per item. Angkringan ini buka mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB.Tingginya minat pengunjung membuat antrean kerap terbentuk bahkan sebelum jam buka. Datang lebih awal menjadi strategi utama untuk mendapatkan tempat duduk dan pilihan menu yang masih lengkap.Mangut Lele Mbah Marto menjadi representasi kuliner tradisional Yogyakarta yang bertahan di tengah tren kekinian.Warung ini dikenal dengan konsep pawon atau dapur tradisional yang bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.Kompas.com/Silvita Agmasari Mangut lele yang dijual di warung Mbah Marto, Bantul, Yogyakarta.Lele yang digunakan tidak digoreng, melainkan diasap terlebih dahulu dengan tusukan pelepah daun kelapa sebelum dimasak menjadi mangut.Metode pengasapan ini menghasilkan aroma khas dengan cita rasa manis dan gurih yang kuat. Mangut lele disajikan dengan kuah santan pedas yang menjadi ciri khas masakan tradisional Jawa.Baca juga: Itinerary Kulineran Serba Legendaris di Yogyakarta Bujet Rp 150.000Mangut Lele Mbah Marto berlokasi di Jalan Sewon Indah, Ngireng-ireng, Panggungharjo, Sewon, Bantul.Warung ini buka mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Harga mangut lele dibanderol sekitar Rp 25.000 per porsi. Karena peminatnya tinggi, pengunjung disarankan datang lebih awal agar tidak kehabisan.Bagi pencinta kuliner pagi, Sate Koyor Yu Ira menjadi tujuan wajib. Warung sederhana ini telah dikenal sejak puluhan tahun lalu dan berlokasi di kawasan Pasar Ngasem, pusat aktivitas warga sejak dini hari.Tribun Jogja/Hamim Thohari Sate koyorMenu andalannya adalah sate koyor, bagian urat sapi yang diolah hingga empuk dan kaya rasa.Harga sate koyor dibanderol mulai Rp 10.000, menjadikannya pilihan terjangkau bagi pengunjung pasar maupun wisatawan.Warung Yu Ira buka mulai pukul 05.00 hingga 15.00 WIB. Waktu paling ramai terjadi pada pagi hari, seiring aktivitas pasar yang padat.Datang sebelum pukul 09.00 WIB menjadi waktu ideal untuk menikmati menu favorit tanpa harus menunggu lama.

| 2026-01-15 03:51