Taman Safari Bogor Tambah Ambulans, Antisipasi Kecelakaan Saat Nataru

2026-01-15 07:59:08
Taman Safari Bogor Tambah Ambulans, Antisipasi Kecelakaan Saat Nataru
BOGOR, – Menjelang puncak liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Taman Safari Indonesia (TSI) memperkuat kesiapsiagaan dengan menyiagakan tambahan ambulans.Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi kecelakaan wisata di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.Ambulans tersebut merupakan dukungan dari Jasa Raharja sebagai bagian dari kerja sama peningkatan keselamatan dan respons darurat bagi wisatawan di salah satu wisata terpadat di Bogor itu.Baca juga: Libur Nataru, Jelajahi Safari Malam Rimba Warna di Taman Safari BogorKomisaris Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau, menyampaikan bahwa keberadaan ambulans tambahan sangat penting mengingat jarak antara kawasan wisata menuju rumah sakit mencapai sekitar tujuh kilometer.“Ini ambulans kedua yang kami terima. Yang pertama sudah cukup lama. Dengan tambahan ini, wisatawan merasa lebih tenang karena ada ambulans yang siaga. Semua sudah dipersiapkan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Tony, Selasa .Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi faktor utama mengingat lonjakan pengunjung selama libur panjang. TSI sendiri telah menyiapkan tujuh unit wisata yang menawarkan hiburan edukatif dan ramah keluarga.“Kami menyediakan hiburan yang edukatif dan ramah keluarga. Mudah-mudahan semua pengunjung merasa aman dan terhibur selama berwisata,” tambahnya.Direktur Pemasaran PT Asuransi Jasaraharja Putera, Imam Hendrawan, menegaskan bahwa penyediaan ambulans merupakan bentuk komitmen perusahaannya dalam menekan risiko kecelakaan di lokasi wisata yang memiliki potensi keramaian tinggi.“Setiap tahun kami rutin mendukung tempat wisata seperti TSI, baik dengan menyediakan tenaga medis, obat-obatan, hingga ambulans, terutama saat keramaian seperti Natal, Tahun Baru, Lebaran, dan hari besar lainnya,” jelas Imam.Baca juga: Bayi Panda Lahir di Taman Safari Bogor, Dinamai Satrio oleh PrabowoIa menekankan pentingnya penanganan cepat dalam situasi darurat. Keterlambatan membawa korban ke fasilitas kesehatan dapat memperburuk kondisi korban, sehingga ambulans harus selalu siaga.“Penanganan pertama itu yang paling penting. Kalau korban terlambat dibawa ke rumah sakit, kondisinya bisa fatal,” ujarnya.KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Taman Safari Indonesia (TSI) memperkuat kesiapsiagaan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) dengan menyiagakan ambulans untuk mengantisipasi potensi kecelakaan wisata yang rawan terjadi di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat. Ambulans tersebut diserah oleh Jasa Raharja pada Selasa .Hingga kini, Jasaraharja telah menyalurkan ambulans ke lebih dari 30 titik di Indonesia berdasarkan skala prioritas dan kebutuhan. Selain objek wisata, mereka juga bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah melalui program asuransi kecelakaan diri.Kerja sama tersebut mencakup institusi seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), hingga Universitas Padjadjaran (Unpad).Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (BKT) memprediksi sebanyak 2,83 juta orang akan memadati kawasan Puncak Bogor selama libur Nataru 2025/2026.Kepala BKT Kemenhub, Hermanta, menyebut Puncak masih menjadi destinasi favorit warga Jabodetabek untuk berlibur.Baca juga: Taman Safari Indonesia Resmikan Enchanting Valley, Wisata Baru di Puncak“Ternyata Puncak ini masih menjadi tempat yang dominan untuk wisatawan dan jumlahnya berkisar 2,83 juta orang. Dari wilayah aglomerasi tetap Puncak itu menjadi daerah favorit,” kata Hermanta.Dengan tingginya potensi kunjungan, keberadaan ambulans tambahan dan sarana penunjang keselamatan di Taman Safari Indonesia dinilai sangat penting untuk memastikan wisatawan dapat berlibur dengan aman dan nyaman.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-15 05:17