JAKARTA, – Di tengah deru mesin truk kontainer dan debu yang beterbangan di udara, suara Herlina (54) memecah keheningan di Kampung Tongkol, Jakarta Utara.Tangannya menunjuk ke arah dinding bata merah yang sebagian ditelan akar pohon besar—sisa reruntuhan benteng tua yang oleh warga disebut Kasteel Gudang Timur.“Kalau bisa dijadikan tempat wisata sejarah, bagus banget,” ujar Herlina saat ditemui Kompas.com, Selasa .“Biar anak-anak muda tahu, di kampung ini ada sejarah besar Batavia. Kalau dibiarkan terus begini, nanti hilang semua,” lanjutnya.Ia bukan satu-satunya yang menyimpan harapan itu. Maria (54), tetangganya yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan sama, juga menatap reruntuhan itu dengan perasaan campur aduk.Baca juga: Revitalisasi Kota Tua Belum Menyentuh Kasteel Batavia yang Kian Rapuh“Dua tahun, lima tahun, enggak ada yang berubah. Tetap aja begini. Pemerintah enggak pernah serius urus bangunan sepenting ini,” katanya.“Padahal katanya sudah jadi cagar budaya. Tapi tiap tahun makin rusak, jadi tempat sampah, parkiran truk, bahkan coret-coretan vandalisme,” lanjutnya.Kini, di mata warga, Kasteel Batavia—simbol kekuasaan kolonial Belanda—telah kehilangan wibawa sejarahnya. Dinding-dinding bata yang dulu megah kini rapuh, sebagian ditopang akar pohon yang menjuntai seperti tangan waktu yang menggenggam masa lalu./Lidia Pratama Febrian Kehidupan warga Kampung Tongkol berdampingan dengan Kasteel BataviaDari arah Jalan Tongkol, Pademangan, langkah kaki menapaki jalan tanah berdebu diapit tumpukan sampah dan puing bangunan.Di balik bisingnya truk pelabuhan dan getaran jalan tol layang, perlahan tersingkap sisa masa lalu Batavia—reruntuhan benteng megah abad ke-17 yang kini nyaris terlupakan.Bangunan itu dulunya bagian dari Kasteel Batavia, benteng utama yang dibangun pada 1620 oleh Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen.Baca juga: Jadi Sisa Kejayaan VOC, Kasteel Batavia Kini Terkubur di Antara Truk dan SampahBenteng ini menjadi pusat kekuasaan Belanda di Asia sekaligus cikal bakal Kota Batavia. Namun kejayaannya hanya bertahan dua abad.Pada 1809, Gubernur Jenderal W.H. Daendels memerintahkan penghancuran benteng dan memindahkan pusat administrasi ke Weltevreden, yang kini dikenal sebagai kawasan Lapangan Banteng.“Bata-bata dari kastel itu bahkan dipakai lagi untuk membangun kantor keuangan kolonial di Weltevreden,” ujar Mochamad Miftahulloh Tamary, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
(prf/ega)
Antara Reruntuhan dan Harapan: Warga Kampung Tongkol Ingin Selamatkan Kasteel Batavia
2026-01-11 03:35:22
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 04:10
| 2026-01-11 04:01
| 2026-01-11 03:21
| 2026-01-11 03:12










































