RUTENG - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, NTT, Safrianus Haryanto Djehaut, mengatakan prevalensi stunting di daerah itu masih tinggi."Pada pengukuran Februari 2025, angka stunting tercatat sebesar 9 persen. Namun, pada Agustus meningkat menjadi 13 persen," jelas Safrianus saat dikonfirmasi, Rabu sore.Ia menjelaskan, data tersebut bersifat dinamis karena pengukuran stunting dilakukan dua kali dalam setahun, yakni pada Februari dan Agustus.Baca juga: Intervensi Spesifik Stunting Terbaik, Pemprov Jateng Terima Penghargaan dari KemenkesMenurut dia, perubahan angka itu mencerminkan realitas di lapangan yang terus bergerak serta dipengaruhi oleh banyak faktor sosial, budaya, dan perilaku pengasuhan anak.Ia menyebut, sekitar 40 persen anak yang mengalami stunting sebenarnya lahir dengan berat badan normal, tetapi mengalami gangguan pertumbuhan setelah masa pemberian Makanan Pendamping ASI (Mpasi)."Banyak anak lahir dengan berat badan normal, tetapi setelah masa Mpasi justru mulai terganggu pertumbuhannya. Dugaan kuat saya, hal ini disebabkan oleh pola pengasuhan yang belum tepat," ujarnya.Baca juga: Momen Gibran Ajak Kepala Daerah Dialog Tukar Cerita soal Penanganan StuntingIa menilai masih banyak orangtua di Manggarai yang kurang memahami pentingnya pemberian asupan gizi tambahan setelah bayi berusia 6 bulan."Sebagian masih beranggapan bahwa ASI saja sudah cukup, padahal pada usia tersebut anak mulai membutuhkan zat gizi tambahan untuk menunjang pertumbuhan otak dan tubuhnya," ungkap dia."Kadang bayi hanya diberi ASI padahal sudah butuh Mpasi, atau ketika anak tidak mau makan, orangtua tidak mencari alternatif makanan yang bergizi. Ini yang perlu kita ubah," tambahnya.Untuk menekan angka tengkes di daerah itu, pihaknya tengah memfokuskan intervensi pada perubahan perilaku dan pola pengasuhan anak di tingkat keluarga."Anak yang lahir normal harus dikawal pertumbuhannya hingga usia 2 tahun. Jangan dilepas begitu saja, karena dalam perjalanan bisa saja mengalami gangguan pertumbuhan," jelas dia.Ia juga menyoroti pentingnya pemantauan rutin bagi bayi dengan berat badan lahir mendekati batas bawah 2,5–2,7 kilogram."Sedikit saja berat badan turun, anak bisa masuk kategori stunting," lanjutnya.Selain itu, peran kader posyandu dan tenaga kesehatan di lapangan akan diperkuat. Mereka diminta melakukan pemantauan bulanan agar tanda-tanda stunting bisa terdeteksi sejak dini."Setiap bulan akan dilakukan penimbangan dan hasilnya langsung dianalisis. Dengan begitu, anak yang menunjukkan tanda-tanda stunting bisa segera mendapatkan penanganan," jelasnya.
(prf/ega)
Angka Stunting di Manggarai NTT Masih Tinggi, Pola Asuh Jadi Penyebab
2026-01-12 10:35:38
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 10:38
| 2026-01-12 10:36
| 2026-01-12 09:45
| 2026-01-12 09:41
| 2026-01-12 09:17










































