Konsumsi Rumah Tangga Turun, Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bertahan di Atas 5 Persen?

2026-02-02 06:12:52
Konsumsi Rumah Tangga Turun, Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bertahan di Atas 5 Persen?
JAKARTA, - Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III-2025 ini.Namun demikian, sejumlah pakar ekonomi menjelaskan, konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2025 melambat dibandingkan dengan paruh pertama yang lalu.Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa pertumbuhan ekonomi tetap bera di atas 5 persen di tengah-tengah penurunan komponen utamanya?Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 mencapai 5,04 persen secara tahunan atau year on year (yoy).Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang tercatat 5,12 persen, tetapi masih menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi di tengah tekanan global dan domestik.Baca juga: Data BPS: Pengangguran Turun 4.092 Orang, Pekerja Paruh Waktu Naik 1,66 JutaLantas sejauh apa konsumsi rumah tangga berpengaruh pada angka pertumbuhan ekonomi Indonesia?Ekonom Kisi Asset Management Arfian Prasetya Aji menjelaskan, dilihat dari penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama.Dari sudut pandang pengeluaran, kontribusi konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 53,1 persen, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,89 persen dan relatif melambat apabila dibandingkan kuartal sebelumnya, sebesar 4,97 persen."Dengan demikian, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tumbuh sebesar 5,04, melambat dibanding kuartal lalu 5,12 persen karena adanya perlambatan dari sisi konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB)," kata dia kepada Kompas.com.Dengan data tersebut, ia menjelaskan, berarti terjadi perlambatan dari belanja masyarakat secara keseluruhan.Baca juga: BPS: Pekerja Formal di Indonesia Naik, Tapi Mayoritas Masih Berpendidikan RendahIni juga terkonfirmasi juga dengan indeks keyakinan masyarakat (IKK) yang per akhir September lalu merosot ke level terendah sejak September 2022, atau waktu pandemi Covid-19."Sebabnya apa? Keyakinan konsumen hanya terjaga dan meningkat pada kelompok pengeluaran tertinggi di atas Rp 4,1 juta dan kelompok terendah dengan pengeluaran Rp 1 juta sampai Rp 2 juta," ungkap dia.Sebaliknya, IKK menurun pada kelompok pengeluaran menengah atau pada rentang Rp 2,1 juta sampai Rp 4 juta.Padahal, kelompok menengah ini merupakan kontributor utama dalam ekonomi secara nasional.Jadi, berdasarkan data ini dapat menunjukkan bahwa PDB memang ada perlambatan, terutama imbas adanya tekanan daya beli pada kelas menengah.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-02 04:46