UMY Beri Keringanan hingga Pembebasan Biaya Kuliah 26 Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera

2026-01-16 09:47:55
UMY Beri Keringanan hingga Pembebasan Biaya Kuliah 26 Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera
- Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memberikan keringanan hingga pembebasan biaya kuliah untuk 26 mahasiswa yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Akibat kehilangan hunian, harta benda, dan mata pencaharian, banyak orangtua dari mahasiswa kini tak lagi mampu membiayai pendidikan anaknya. “Kita punya misi dakwah, misi kemanusiaan, tetapi juga misi profesional. Karena kita berada di bawah Muhammadiyah, maka untuk kasus bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mahasiswa-mahasiswa yang terdampak akan kita berikan keringanan,” ujar Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., Rabu , dilansir di situs kampus.Keringanan tersebut mencakup pembebasan biaya kuliah selama satu semester, satu tahun, bahkan mungkin pembebasan penuh, tergantung pada tingkat kerusakan atau kehilangan yang dialami keluarga mahasiswa. Kebijakan ini akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing mahasiswa agar tidak ada yang tertinggal dalam pendidikannya.“Jika kondisi mereka sangat parah, orangtua tidak punya penghasilan lagi, rumah hilang, atau lahan pertanian rusak, maka kita usahakan minimal satu semester gratis. Jika kondisi belum membaik, kita pertimbangkan lagi. Dalam kasus tertentu, kalau memang sangat berat, bisa saja hingga mereka selesai kuliah,” kata Rektor.Baca juga: 162 Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera Dapat Bantuan dari UGM, Pastikan Pendidikan TerjagaSelain itu, UMY juga telah menyalurkan bantuan bagi kehidupan sehari-hari mahasiswa yang keluarganya tidak lagi mampu mengirimkan dukungan finansial. Bantuan ini dihimpun melalui donasi civitas academica UMY yang disalurkan melalui Lazismu UMY. Total dana yang terkumpul hingga momen wisuda pada Rabu mencapai Rp 62.179.033. Prof. Nurmandi menegaskan bahwa UMY siap menurunkan tim KKN maupun dosen untuk membantu proses rehabilitasi ke Sumatera. Bentuan dari segi tenaga tersebut dapat mencakup perbaikan lingkungan, desain ulang permukiman, hingga pemberdayaan masyarakat.UMY juga menyiapkan dukungan psikososial untuk membantu 26 mahasiswa yang mengalami trauma pascabencana turut menimpa keluarga mereka.“Mereka sedang mengalami ujian. Rumah hilang, mungkin ada orangtua yang meninggal, kebun rusak, dan barang-barang lenyap. Karena itu, mereka harus tetap tabah dan tegar. Kami akan mendampingi supaya mereka tetap semangat belajar. Pendampingan psikologis sangat penting karena banyak penyintas bencana mengalami gangguan mental. Psikolog dan dosen UMY siap membantu proses pemulihannya,” tegas Prof. Nurmandi.Baca juga: Mendikdasmen Salurkan Bantuan ke Sekolah Terdampak Banjir di Aceh Tamiang, SMA Dapat Rp 25 Juta


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-16 08:29