Ketika Mata Air Dikeramatkan demi Menjaga Konservasi Air di Salatiga..

2026-01-12 09:50:35
Ketika Mata Air Dikeramatkan demi Menjaga Konservasi Air di Salatiga..
SALATIGA, - Ketersediaan air bersih menjadi tantangan utama di perkotaan karena pertumbuhan penduduk yang pesat melebihi kapasitas sumber daya alam, menyebabkan sulitnya akses air bagi masyarakat perkotaan.Pengelolaan air baku dan menjaga konservasi mata air menjadi salah satu tantangan Pemerintah dan masyarakat Kota Salatiga agar keberadaannya tetap terjaga.Kota Salatiga masih memiliki beberapa mata air yang masih hari digunakan warga untuk kebutuhan domestik sehari-hari seperti mencuci pakaian dan mandi, serta kebutuhan spiritual seperti Mata Air Kalitaman, Mata Air Sumur Wali, Mata Air Kalisombo, dan lainnya.Melihat tantangan tentang pentingnya konservasi air, Komunitas Latar Kalitan mengadakan Festival Sumur Wali untuk ketiga kalinya dengan tema “Peran Budaya dalam Menjaga Lingkungan”.Baca juga: Kawasan Konservasi Laut Kaltim Diawasi Radar Canggih dari AmerikaAcara Festival Sumur Wali 3 berlangsung selama tiga hari, dari Jumat hingga Minggu di kawasan Sumur Wali, RW 04, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.Festival tersebut menjadi sarana pelestarian mata air melalui ikatan seni, budaya, serta tradisi lokal guna membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.Festival Sumur Wali pertama kali diadakan pada tahun 2018 oleh jaringan aktivis lingkungan Salatiga.Awalnya hanya berupa aksi bersih-bersih, kini berkembang menjadi platform partisipasi masyarakat dalam menjaga alam.Teny, Ketua Komunitas Latar Kalitan, menjelaskan bahwa festival ini fokus pada lingkungan adat Sumur Wali dan berhasil mengidentifikasi delapan titik sumber mata air yang disebut 'Sumur Wali'.“Kami telah melakukan observasi di Salatiga, dan menemukan delapan titik mata air yang masih tersisa dan digunakan oleh warga,” ungkapnya saat diwawancarai Kompas.com.Baca juga: 27 Harimau Sumatera Terdeteksi di Leuser, Harapan Baru untuk KonservasiIa berharap festival mendatang bisa diadakan secara bergilir di setiap titik Sumur Wali, dengan mengintegrasikan budaya adat setempat ke dalam kampanye konservasi.“Ke depan, acara ini diharapkan berpindah-pindah di beberapa titik mata air di Salatiga sambil memadukan tradisi lokal sebagai strategi pelestarian lingkungan,” ujarnya.Teny juga menjelaskan bahwa pembangunan tradisi sebagai alat kampanye konservasi menjadi salah satu upaya agar juga melibatkan kebiasaan masyarakat sebagai salah satu metode konservasi.“Tidak hanya mahasiswa atau pegiat lingkungan, kebiasaan-kebiasaan masyarakat seperti spiritual atau mengkeramatkan tempat mata air juga bagian dari konservasi yang sudah dilakukan masyarakat secara turun-temurun,” ujarnya.“Ini kampanye yang mendorong masyarakat lebih peduli terhadap alam. Jika dilakukan secara rutin, akan menciptakan perubahan nilai jangka panjang,” ujarnya.


(prf/ega)