JAKARTA, — Di basement Blok M Square, Jakarta Selatan, waktu seperti berjalan lebih lambat. Lampu-lampu neon putih memantulkan cahaya pada lantai keramik.Di sepanjang lorong, kios-kios kecil berjajar rapat, sedikitnya ada 20 kios penuh menampilkan tumpukan kaset, CD, dan vinyl yang menjulang seolah siap menelan siapa pun yang melongok ke dalamnya.Di sinilah salah satu pusat peradaban musik fisik di Jakarta masih bertahan. Di tengah era platform digital seperti Spotify, YouTube, SoundCloud, pasar musik bawah tanah ini tak pernah benar-benar mati.Bahkan, ia hidup dari ingatan lama, rasa penasaran anak muda, dan budaya koleksi yang tak tergantikan oleh algoritma.Baca juga: Saat Kaset Pita dan Vinyl Kembali Hidup di Lorong Blok M Square...Di salah satu sudut lorong, kios “Kedai Musik” milik Andri (39) mencuri perhatian. Rak-rak besi hitam penuh sesak oleh kepingan CD yang ditumpuk sampai setinggi dada orang dewasa.Vinyl dibungkus plastik rapi, dijejerkan di dalam krat-krat kayu, sementara kardus-kardus besar masih berserakan di depan pintu.Kios itu tak lebih besar dari ruang ganti butik kecil, tapi suasananya seperti museum mini yang padat, penuh, gelap, dan hidup.Setiap pengunjung harus berjalan sambil sedikit memiringkan badan agar tidak menyenggol tumpukan album.Andri sudah 11 tahun menjaga kiosnya di tengah lorong berdinding musik ini.“Gue di Blok M, Blok M Square, dari 2013 akhir. Desember 2013, Januari lah hitungannya. Fokusnya 2014. Jadi udah 11 tahunan,” kata Andri saat ditemui Kompas.com, Selasa .Baginya, musik fisik bukan sekadar komoditas, melainkan budaya. Kolektor selalu butuh barang yang bisa disentuh.“Kolektor kan lebih seneng rilisan fisik. Mungkin digital mereka dengerin, tapi cuma sekedar dengerin. Kalau buat koleksi kan harus ada barangnya. Jadi tetep ada lah pasarnya,” ujar dia.Di antara tumpukan yang menua bersama debu, tren tetap berubah. Namun satu hal tidak, musik 90-an masih menjadi primadona.“Tetep band-band 90-an. Kalau band sekarang ya indie-indie top 40 lah. Rock 90-an tuh masih dicari,” ucap dia.Oasis, Blur, Radiohead, hingga The Cure sebagai nama-nama yang tak pernah absen dicari.Namun, geliat baru datang dari generasi muda. Andri melihat sendiri bagaimana Gen Z yang lahir ketika kaset sudah hampir punah datang ke lapaknya.“Justru band-band kayak Hindia, Barefood punya pasar baru: anak-anak sekolah, Gen Z. Dari situ mereka ngulik band-band lama. Jadi narik pasar baru,” kata Andri.Tidak semuanya benar-benar kolektor. Ada yang beli karena gaya, sekadar ikut tren.“Ada yang beli sekali, bahkan nggak punya player-nya. Tapi dia beli kaset atau CD,” ujar dia.Tidak ada distributor resmi untuk kaset dan CD lawas. Andri hidup dari perburuan acak.“Barang itu semakin banyak pedagang, semakin susah. Distributor juga nggak ada. Kadang nyari dari toko sebelah, jeruk makan jeruk lah. Kadang dari pedagang online. Ada juga orang keliling cari barang antik. Mereka nemu CD atau kaset, ya jual ke sini,” jelas dia.Terkadang, Andri memperoleh barang langka rilisan Indonesia yang jumlahnya terbatas.“Kalau Indonesia itu paling susah. Mau CD atau kaset, rilisnya cuma di sini makanya kalau dapet sekarang tuh wah ini jarang,” kata dia.Harga pun beragam. Kaset kompilasi bisa Rp25.000, sementara untuk kaset band-band dijual seharga Rp 40.000 sedangkan vinyl baru mulai Rp450.000, dan rilisan langka bisa menyentuh jutaan.“Kayak White Shoes. Vinyl rilisan awalnya gue pernah jual lebih dari 3 juta,” ujar dia.
(prf/ega)
Lorong Bawah Tanah Blok M Square: Surga Para Pemburu Kaset dan Vinyl
2026-01-12 09:43:34
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 09:51
| 2026-01-12 09:13
| 2026-01-12 08:39
| 2026-01-12 07:48










































