- Dari barat ke timur, sejak tahun 2019 Justin Eduardo Simarmata merantau meninggalkan kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara.Justin menjalankan tugas sebagai dosen Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Timor (Unimor), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).Hanya berjarak sekitar 45 menit dari perbatasan Timor Leste. Tak jauh dari kampusnya ada sebuah desa bernama Desa Nian.Selama bertahun-tahun masyarakat Desa Nian bertumpu pada hasil tani dan ternak. Pohon kelapa berdiri di hampir setiap kebun. Buah kelapa berlimpah, tapi nilai jualnya rendah.Baca juga: Unida Gontor Buka Lowongan Dosen Tetap, Cek SyaratnyaBiasanya hanya dihargai Rp 1.000 oleh pedagang pengumpul. Kadang Rp 2.000. Kadang tak terjual sama sekali. Tak sedikit yang membusuk terlalu lama menunggu pembeli.“Muncullah ide dari situ, kelapa ini menjadi memiliki nilai yang lebih tinggi lagi, yaitu dengan mengubah dalam bentuk Virgin Coconut Oil (VCO),” ucap Justin, dikutip dari situs Kemendikti saintek, Rabu .Dahulu masyarakat Desa Nian terbelenggu dalam keterbatasan. Ide Justin bermula dari kegiatan observasi Program Kosabangsa tahun 2024.“Mereka masih olah secara tradisional pakai parut tradisional, lalu perasnya pakai tangan. Sulit. Memakan waktu yang begitu banyak. Kelapa-kelapa ini biasanya masyarakat simpan saja, kalau tengkulaknya tidak datang, ya disampahkan,” ujar Kepala Desa sekaligus Ketua Kelompok Tani, Agustinus Kono Toan.Berpikir bahwa teknologi tepat guna harus masuk ke desa ini Justin lalu menyiapkan proposal untuk mempercepat dan mempermudah proses produksi VCO.“Kami menawarkan suatu teknologi yaitu alat peras dan parut sederhana, sehingga begitu kelapa dimasukkan, langsung terpisah ampas dan santannya,” ucap Justin.Justin berkolaborasi dengan dosen Teknik Mesin, ahli dari Politeknik Negeri Kupang, sehingga alat yang dihasilkan bisa tepat guna dan efisien.Aspek terpenting ialah menemuka cara agar alat tersebut bisa digunakan dengan listrik, mesin diesel, dan solar sehingga tidak bergantung pada infrastruktur desa.“Alat ini sudah diuji coba di Politeknik Negeri Kupang, sebelum diterapkan kepada masyarakat,” ujar Justin.SHUTTERSTOCK/WORRADIREK Ilustrasi minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO). Suatu hari Justin datang bersama tim Teknologi Informasi, Agribisnis, dan lainnya. Mereka memberi pelatihan selama sekitar satu minggu untuk mengoperasikan.“Mereka senang sekali, mereka tidak merasakan lagi lelah untuk memeras kelapanya. Saya kaget sekali, begitu kelapa dimasukkan ke mesin, dia bisa memeras dengan sendirinya. Cepat sekali,” kata Justin menggambarkan pengalaman warga.
(prf/ega)
Kisah Justin, Dosen Asal Medan yang Berdayakan Warga Perbatasan Timor Leste Produksi VCO
2026-01-14 06:04:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-14 06:08
| 2026-01-14 05:55
| 2026-01-14 05:41
| 2026-01-14 04:35
| 2026-01-14 03:55










































