- Tiga minggu pascabanjir dan longsor yang melanda Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, luka mendalam masih membekas di hati para penyintas.Meski bencana banjir dan longsor itu telah berlalu, ribuan warga masih bertahan di pengungsian, mencoba melanjutkan hidup di tengah trauma, kehilangan orang tercinta, serta ketidakpastian hunian.Di antara para penyintas banjir Tapteng, sosok Usy Tambunan (60) tampak duduk terpaku di pinggir lokasi bencana.Perempuan lanjut usia itu mengenakan tudung kepala bermotif kotak-kotak biru putih, bertopang pada tongkat kayu. Tatapannya kosong, seolah kembali mengingat detik-detik ketika banjir nyaris merenggut nyawanya.Baca juga: Menjaga Napas Terakhir Orangutan Tapanuli dari Ancaman Banjir dan Hilangnya RimbaUsy adalah satu dari sekian banyak korban banjir dan longsor Tapteng yang selamat dari maut. Ia mengaku bertarung melawan arus banjir setinggi sekitar dua meter selama kurang lebih 1,5 jam, dengan kondisi kaki tertimpa runtuhan tembok rumah ibunya.“Saat itu banjir sudah seleher saya. Tiba-tiba rumah roboh dihantam banjir. Temboknya kena pahaku. Enggak bisa kuperkirakan kekmana. Tapi kupanggil Tuhan, ‘Tuhan gerakkan kakiku ini’,” kata Usy kepada Tribun Medan, Rabu .Awalnya, Usy sempat melarikan diri ke gereja untuk mencari tempat aman. Namun, ia kembali ke rumah sang ibu yang sudah stroke karena khawatir ibunya kedinginan dan ingin mengambil pakaian hangat.“Setelah kupanggil Tuhan, seperti ada yang menggerakkan kakiku dan tembok itu. Terus aku berenang. Kulihat sudah enggak ada orang, semuanya kayu. Aku berenang hampir satu jam untuk menyebrang ke gereja,” ujarnya.Baca juga: Kisah Arman Zebua, Selamatkan 52 Nyawa dari Jebakan Longsor-Banjir di Hutan Tapanuli TengahANTARA FOTO/Muhammad Adimaja Foto udara sejumlah warga melintasi jembatan Aek Garoga 2 di Desa Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis . KLH memeriksa delapan perusahaan di DAS Batang Toru yang diduga melanggar aturan lingkungan dan memperparah banjir bandang Sumatera Utara.Bagi Usy, keselamatan dirinya terasa seperti mukjizat. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Saat ia tiba di gereja, sang ibu ternyata telah meninggal dunia.“Aku panggil Tuhan sepanjang berenang itu, sekitar 1,5 jam. Sampai di gereja, mamakku sudah meninggal. Tapi aku enggak mau tinggalkan mamakku. Dua hari tiga malam aku di gereja tanpa makan dan minum, biar sama mamakku,” tutur Usy dengan suara bergetar.Ia baru menguburkan jenazah ibunya setelah air mulai surut. Selama di gereja, Usy terus berdoa agar diberi keselamatan dan kekuatan menghadapi cobaan.Menurut Usy, bencana banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon kali ini adalah yang terparah sepanjang hidupnya.“Sudah 60 tahun aku tinggal di sini, enggak pernah banjir dan longsor separah ini. Hujan tiba-tiba, kayak mimpi di siang bolong. Dari nenek moyang sampai sekarang, baru kali ini kejadian,” ujarnya.Baca juga: Daerah Terisolasi Pascabanjir di Tapanuli Mulai Berkurang, Tersisa 6 KecamatanIa menyebut, banjir datang membawa kayu dan batu-batu besar sehingga menghancurkan rumah warga.Dengan nada getir, Usy menuding kerusakan lingkungan sebagai salah satu penyebab utama bencana banjir dan longsor di Tapteng.
(prf/ega)
Korban Banjir Tapanuli Tengah: Kami dari Nenek Moyang Tak Pernah Menanam Sawit...
2026-01-13 06:15:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 06:16
| 2026-01-13 05:27
| 2026-01-13 04:56
| 2026-01-13 04:04
| 2026-01-13 04:00










































