Kenangan Nonton di Bioskop Margaria, Ada Waktu Istirahat dan Makan Bekal

2026-01-15 01:39:59
Kenangan Nonton di Bioskop Margaria, Ada Waktu Istirahat dan Makan Bekal
JAKARTA, - Sejumlah warga mengenang pengalaman mereka menonton film di bioskop legendaris Margaria yang berlokasi di Jalan Tenggiri 70, RT 02 RW 08, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada era 1990-an.Salah satu warga bernama Syam (38) mengaku sering datang ke Bioskop Margaria untuk menonton film-film India."Di sini dulu saya ngalamin film-film India seru banget di lantai atas," kata Syam saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Rabu .Syam masih mengingat betul suasana menonton di bioskop tersebut yang menurutnya sangat seru dan berbeda dengan bioskop masa kini.Baca juga: Akhir Kejayaan Bioskop Margaria yang Tergerus Teknologi dan PenjarahanBapak satu anak itu menyebut, pada masa itu penonton diberi waktu istirahat di tengah pemutaran film."Dulu seru, ada istirahatnya nonton bioskop zaman dulu mah. Jadi, pas film berjalan udah satu jam, pada keluar dulu lah buat makan, ada yang bawa bekal," ujarnya sambil tertawa.Warga lain bernama Tjipto (65) juga punya kenangan serupa. Ia mengingat jelas momen ketika film di Bioskop Margaria sempat dihentikan sementara untuk memberi kesempatan penonton beristirahat."Iya dulu ada istirahatnya kan soalnya bangkunya enggak kayak zaman sekarang, dulu enggak ada senderannya. Jadi, kalau enggak istirahat capek," ungkap dia.Menurut Tjipto, sebagian besar film India yang diputar di Margaria berdurasi hingga tiga jam dalam sekali tayang.Baca juga: Bioskop Margaria Tanjung Priok Kini Sepi, Hanya Toko Emas yang BertahanKarena itu, penonton diberi waktu jeda untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan tontonan."Kalau di bioskop sekarang kan enggak bisa kayak gitu, dari awal film diputar sampai selesai terus lanjut enggak ada jeda buat istirahat," kata Tjipto.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-15 01:00