Menkes: Fokus Kami Bergeser dari Obati Orang Sakit Jadi Jaga Orang Tetap Sehat

2026-01-17 06:36:53
Menkes: Fokus Kami Bergeser dari Obati Orang Sakit Jadi Jaga Orang Tetap Sehat
JAKARTA, - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, fokus utama kementeriannya bergeser dari mengobati orang sakit menjadi menjaga agar masyarakat tetap sehat.Hal ini diucapkan Budi dalam sambutannya ketika menjadi pembina upacara pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu ."Fokus kita bergeser dari mengobati orang sakit, menjadi menjaga agar orang tetap sehat," kata Budi di lokasi, Rabu.Untuk itu, Budi memerintahkan jajarannya agar transformasi kesehatan harus digerakkan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.Baca juga: Menkes Optimistis Target 70 Juta Orang Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis Tercapai"Dengan akses yang mudah, kualitas yang baik, dan biaya yang terjangkau," ucapnya.Menurut Budi, dalam waktu satu tahun terakhir ini, Kemenkes telah menjalankan tiga program hasil terbaik cepat atau program Quick Win sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto."Lebih dari 52 juta orang menyadari pentingnya deteksi dini penyakit dengan mengikuti program cek kesehatan gratis," kata dia.Seiring dengan meningkatnya kesadaran cek kesehatan gratis, Menkes mengeklaim bahwa cakupan skrining tuberkulosis juga ikut berdampak."Peningkatan cakupan skrining tuberkulosis hingga menjangkau lebih dari 20 juta orang," imbuhnya.Sejalan dengan itu, Kemenkes juga berupaya meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.Baca juga: Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik, Menkes: Jangan Jalan di Luar Usai Hujan"Pembangunan dan peningkatan rumah sakit di seluruh daerah terus berjalan demi mewujudkan kualitas layanan kesehatan yang merata. Di tahun 2025, 32 dari 66 lokus rumah sakit daerah tipe D akan ditingkatkan menjadi tipe C," bebernya.Ia berharap, di peringatan HKN ke-61, Kemenkes semakin memperkuat komitmen dan menumbuhkan optimisme untuk melanjutkan transformasi kesehatan Indonesia."Dari individu dan keluarga yang sehat raga dan jiwa akan lahir masyarakat yang kuat demi menyongsong tercapainya Indonesia Emas 2045," jelasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-17 04:11