Menristekdikti Dorong Kolaborasi Kampus dan Industri Untuk Mendongkrak Ekonomi Tumbuh 8 Persen

2026-01-12 04:56:37
Menristekdikti Dorong Kolaborasi Kampus dan Industri Untuk Mendongkrak Ekonomi Tumbuh 8 Persen
BANDUNG, - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Brian Yuliarto menegaskan bahwa arah kebijakan riset, inovasi dan hilirisasi teknologi nasional saat ini menuntut peran aktif perguruan tinggi dan industri dalam mendorong daya saing Indonesia.Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan pameran hasil riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat (PRIMA) dan CEO Summit 2025 yang merupakan ajang yang mempertemukan dunia industri dengan hasil-hasil riset perguruan tinggi.Pelaksanaan PRIMA sebagai ruang strategis dinilai penting untuk menjembatani riset akademik dengan kebutuhan nyata industri.Baca juga: Pemerintah Akan Bangun Kampus di 3 Provinsi di Papua yang Belum Punya Perguruan TinggiMenurutnya, kolaborasi ini jadi salah satu kunci ditengah target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen. "Kita harus punya optimisme yang tinggi dan sekali lagi ini sangat tidak mudah sangat sulit, tapi pak presiden selalu berkata kita harus punya keinginan dulu, kalau keinginan saja sudah takut maka gak mungkin kita mengejar itu," ucapnya saat pemaparam dalam acara PRIMA dan CEO Summit 2025, di ITB, Selasa .Menurut Brian, peran perguruan tinggi seperti Institute Teknologi Bandung (ITB) dinilai strategis sebagai lokomotif pengembangan industri berbasis sains dan teknologi.Baca juga: Kebijakan Kesehatan Harus Kembali ke KampusIa menyebut indonesia memiliki waktu sekitar 13 tahun untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (midle income trap), dan kontribusi kampus teknologi seperti ITB menjadi sangat krusial.Brian mencontohkan Pakistan sebagai negara yang berhasil menemukan ceruk industri strategis.Meski memiliki GDP perkapita yang lebih rendah dibanding Indonesia, Pakistan mampu membangun industri pertahanan yang kuat hingga menopang 40-50 persen perekonomiannya.Keberhasilan itu, lahir dari kemampuan membaca kondisi geopolitik dan menemukan niche market (ceruk pasar) yang tepat. Baca juga: Empowering Local People, Strategi Kementrans Percepat Pertumbuhan Ekonomi Kawasan"Bayangkan itu yang sedang kita kerjakan mencari kebangkitan industri yang cocok dengan kondisi indonesia, jadi ini memang seluruh ahli dibutuhkan untuk menemukan dan saya rasa ini kesempatan ITB menemukan, mencari apa yang bisa kita temukan," ucapnya.Menurut Brian, Kemendiktisaintek memiliki pekerjaan besar untuk mendorong hasil riset agar benar-benar masuk ke Industri.Salah satu tantangannya menjembatani perbedaan karakter antara dunia riset dan kebutuhan pasar.Menurut Brian, kebanyakan dosen dan kalangan kampus menilai produk-produknya sendiri yang paling canggih dan hebat. Padahal market tidak terlalu suka. Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Kendal Tembus 8,84 Persen, Bupati Sebut KEK Jadi Motor Utama"Makanya kami di kementrian menawarkan industri, saya selalu ketemu BUMN-BUMN, industri-industri, menawarkan, bapak perlu produk apa," ujarnya. 


(prf/ega)