Juru Bicara Hamas Abu Obeida Tewas, Jubir Baru Telah Ditunjuk

2026-01-16 10:39:48
Juru Bicara Hamas Abu Obeida Tewas, Jubir Baru Telah Ditunjuk
GAZA, – Hamas mengonfirmasi bahwa juru bicara sayap bersenjatanya, yang dikenal sebagai Abu Obeida, serta Mohammed Sinwar—mantan pemimpin Hamas di Gaza—telah tewas dalam perang Israel di Gaza awal tahun ini.Kepastian itu disampaikan melalui pernyataan video Brigade al-Qassam pada Senin .Dalam pernyataan tersebut, Hamas sekaligus mengumumkan penunjukan juru bicara baru yang tampil bertopeng.Baca juga: Pemimpin Milisi Anti-Hamas Bekingan Israel Tewas dalam Pertempuran di GazaDalam pernyataan itu, juru bicara baru mengungkap identitas asli Abu Obeida untuk pertama kalinya. Ia mengatakan nama sebenarnya adalah Hudhayfah Samir Abdullah al-Kahlout.“Kami mengumumkan dengan bangga gugurnya pemimpin besar Abu Obeida,” ujarnya.“Kami telah mewarisi gelarnya,” imbuhnya.Militer Israel sebelumnya menyatakan pada Mei bahwa mereka telah membunuh Mohammed Sinwar, adik dari mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar. Tiga bulan kemudian, Israel juga mengatakan Abu Obeida telah tewas.AFP/MAHMUD HAMS Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh (kiri), komandan Hamas Mohammed Deif (tengah), dan pemimpin politik Hamas di Gaza, Yahya Sinwar (kanan).Abu Obeida dikenal sebagai suara kunci Hamas di Gaza. Ia kerap merilis pernyataan tentang perkembangan di medan tempur, dugaan pelanggaran gencatan senjata, serta kesepakatan pertukaran tawanan Israel dengan tahanan Palestina pada awal tahun ini, selama gencatan senjata singkat yang kemudian disebut Hamas dihancurkan secara sepihak oleh Israel.Pernyataan terakhir Abu Obeida disampaikan pada awal September, ketika Israel memulai tahap awal serangan militer baru ke Kota Gaza.Saat itu, wilayah tersebut dinyatakan sebagai zona tempur, ratusan bangunan permukiman dihancurkan, dan warga Palestina mengungsi secara massal.Baca juga: Hamas Bahas Tahap Kedua Gencatan Senjata Gaza dengan Mesir, Termasuk Pelucutan SenjataBrigade al-Qassam juga mengonfirmasi kematian sejumlah komandan senior lainnya, termasuk Mohammed Shabanah, kepala Brigade Rafah, serta dua pemimpin lain, Hakam al-Issa dan Raed Saad.Mereka termasuk dalam daftar panjang perwakilan Hamas yang dipastikan tewas dalam dua tahun terakhir, di antaranya pemimpin politik tertinggi Yahya Sinwar, komandan militer Mohammed Deif—salah satu pendiri Brigade al-Qassam pada 1990-an—serta kepala politik Ismail Haniyeh, yang dibunuh di Teheran, Iran.Pernyataan itu menyebutkan Mohammed Sinwar sempat menggantikan Deif sebagai kepala staf Brigade al-Qassam setelah kematian Deif.Ia memimpin kelompok tersebut melalui fase yang digambarkan sebagai “sangat sulit secara kritis” sebelum akhirnya tewas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 09:25