Pagi Buta, Ular Kobra Tiba-tiba Muncul Menyelinap di Ruang Tamu Warga Indramayu

2026-01-31 10:32:07
Pagi Buta, Ular Kobra Tiba-tiba Muncul Menyelinap di Ruang Tamu Warga Indramayu
INDRAMAYU, - Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Indramayu menangkap seekor ular kobra di rumah warga di Perum Prima Surya, Desa Karanganyar, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Jawa Barat.Ular berbisa itu awalnya ditemukan oleh pemilik rumah, Nuryeni, pada Minggu dini hari saat pagi masih buta.Ia melihat ular itu melintas lalu menyelinap di belakang lemari ruang tamu.Di tengah situasi tersebut, Nuryeni langsung melapor ke petugas Damkar Kabupaten Indramayu.Baca juga: Cerita Keysa, Anak Tukang Parkir di Indramayu Ingin Sembuh dari Tumor Pembuluh Darah Punya Cita-cita Jadi Dokter"Laporan kami terima pukul 03.20 WIB. Awalnya, pemilik rumah melihat ada ular menyelinap di belakang lemari ruang tamu. Ular tersebut berjenis kobra," kata Danru 2 Pos Damkar Patrol, Tofan Hadiansah, saat dikonfirmasi.Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Damkar langsung bergerak cepat ke lokasi.Dengan peralatan khusus, petugas berusaha menangkap ular tersebut secara perlahan.Proses evakuasi sendiri dilakukan dengan hati-hati karena ular yang ditangkap berbisa dan berpotensi membahayakan.Sekitar pukul 03.57 WIB, petugas berhasil mengevakuasi ular kobra tersebut."Alhamdulillah, ular berhasil dievakuasi dengan aman dan situasi kembali kondusif," ujar dia.Baca juga: Perjuangan Ayah Tukang Parkir di Indramayu Demi Selamatkan Anaknya yang Sakit Tumor Pembuluh DarahDalam kegiatan itu, dipastikan tidak terdapat korban, baik dari pihak warga maupun petugas.Setelah evakuasi selesai, ular diamankan sesuai prosedur yang berlaku.Damkar Kabupaten Indramayu juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada, terutama pada malam hingga dini hari, serta segera melaporkan ke petugas apabila menemukan hewan liar atau berbahaya di lingkungan permukiman."Kami mengimbau kepada warga untuk segera melapor jika ada kejadian-kejadian seperti ini," kata Tofan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-31 09:21