Solo Optimistis Pariwisata Tetap Stabil Meski Ada Wacana Enam Hari Sekolah

2026-01-13 11:58:53
Solo Optimistis Pariwisata Tetap Stabil Meski Ada Wacana Enam Hari Sekolah
– Pemerintah Kota (Pemkot) Solo meminta pelaku pariwisata dan perhotelan agar tidak terlalu khawatir terhadap wacana penerapan kembali sistem enam hari sekolah untuk jenjang SMA/SMK di Jawa Tengah.Menurut Pemkot, kebijakan tersebut diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap tingkat kunjungan wisata di Kota Solo.Wali Kota Solo, Respati Ardi, menjelaskan, sumber pendapatan pariwisata Solo sejauh ini lebih banyak berasal dari wisatawan luar Jawa Tengah.“Pendapatan wisata selama ini cukup banyak berasal dari wisatawan Jawa Timur dan Jawa Barat, bahkan dari luar Pulau Jawa. Kami optimistis hal ini tetap bisa dioptimalkan,” ujar Respati di Gedung DPRD Solo, Kamis .Baca juga: Hotel di Solo Terancam Sepi Jika Sekolah Enam Hari DiterapkanIa menambahkan, potensi tekanan baru akan muncul apabila kebijakan enam hari sekolah diterapkan serentak di banyak daerah.Selama wilayah lain masih menerapkan lima hari sekolah, peluang Solo menarik wisatawan tetap terbuka.“Apalagi jika daerah-daerah lain tidak menerapkan enam hari sekolah, peluang wisatawan berkunjung ke Solo tetap ada,” jelasnya.Respati menyebut Pemkot Solo juga telah menyiapkan langkah adaptasi agar kebijakan ini tetap memberi manfaat bagi sektor pendidikan dan pariwisata.Salah satunya adalah rencana menambah kurikulum berbasis wisata untuk siswa.“Kami rasa situasinya masih bisa dikelola. Kita bisa menambahkan kurikulum berbasis pariwisata agar siswa lebih mengenal potensi daerah, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri,” ujarnya.Sebelumnya, Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Wening Damayanti, menilai kebijakan enam hari sekolah berpotensi memengaruhi dua aspek utama sektor perhotelan: tingkat okupansi dan durasi menginap.Ia menjelaskan bahwa hotel-hotel di Solo tidak hanya bergantung pada pasar MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), tetapi juga pada wisata keluarga yang memanfaatkan akhir pekan untuk berlibur.Momentum tersebut biasanya meningkat saat akhir pekan bertepatan dengan hari libur nasional."Jika nantinya anak-anak tetap masuk sekolah pada hari Sabtu, otomatis akan berdampak pada okupansi hotel, khususnya pasar keluarga yang sering melakukan perjalanan dan menginap di luar kota, termasuk ke Kota Solo," ujarnya, Rabu .Menurut Wening, sektor perhotelan sebenarnya sudah terguncang oleh pemangkasan anggaran pemerintah sejak tahun ini dan diperkirakan berlanjut tahun depan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-13 15:56