Kisah Aceng 14 Tahun Ajar Siswa Berkebutuhan Khusus: “Mereka Bukan untuk Dikasihani, tapi Diberikan Kesempatan”

2026-01-12 06:51:54
Kisah Aceng 14 Tahun Ajar Siswa Berkebutuhan Khusus: “Mereka Bukan untuk Dikasihani, tapi Diberikan Kesempatan”
PALANGKA RAYA, - Aceng Rosadi terlihat canggung saat menerima penghargaan dari Gubernur Kalteng sebagai salah satu guru terbaik tingkat provinsi jenjang Sekolah Khusus (SKH) dalam upacara peringatan Hari Guru Nasional 2025 di SMAN 5 Palangka Raya, Selasa .Pria berusia 40 tahun itu merupakan salah satu guru di SKH Negeri 1 Palangka Raya, yang dulu dikenal dengan Sekolah Luar Biasa (SLB).Dia sudah mengajar peserta didik berkebutuhan khusus selama 14 tahun, sejak pertama kali terjun ke dunia pendidikan pada tahun 2011 silam.Baca juga: Modal Jual Cincin Pernikahan, Bu Tari Buktikan Guru Juga Bisa Jadi Pengusaha TangguhSelama hampir satu setengah dekade menjadi guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus, sudah banyak kisah haru, dari suka hingga duka, yang dilalui oleh Aceng.Menurutnya, hal paling menantang dari pekerjaannya sehari-hari adalah menggali minat, bakat, dan potensi murid berkebutuhan khusus.“Tantangannya bagaimana kita bisa menemukan bakat, minat, dan potensi anak, guru di SLB harus mampu mengenal anak lebih dalam, bukan hanya soal akademik, tapi banyak hal,” ungkap pria kelahiran Kapuas, 12 Juni 1985 ini.Sebelum mengajar lebih jauh mengenai akademik, mereka harus mengasesmen anak-anak untuk mendapatkan profil kekuatan dan kelemahan, minat, dan potensi supaya dapat menyusun program pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.“Setiap anak di sekolah khusus punya kebutuhan yang berbeda, di situlah guru SLB dituntut memahami kebutuhan masing-masing anak, dan harus mampu menyederhanakan materi yang disampaikan, di situlah perjuangannya,” tuturnya.Menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus sejak pertama kali mengajar, Aceng bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan sekolah khusus.Dia tamatan Pendidikan Biologi dari Universitas Palangka Raya tahun 2007 lalu.Dia mengaku sempat kaget saat pertama kali menjadi guru SLB.“Awalnya sudah pasti kaget, sempat depresi karena tidak punya latar belakang pendidikan sekolah luar biasa tapi harus mengajar, bingung bagaimana mengajarnya. Namun 3 bulan pertama mengajar sudah mulai bisa menyesuaikan,” ujarnya.Menurut lulusan S1 Pendidikan Luar Biasa Universitas Lambung Mangkurat tahun 2016 ini, salah satu bagian krusial dari mengajar anak-anak sekolah khusus adalah memotivasi mereka agar tidak putus asa dalam belajar.Dia pun selalu memotivasi anak-anak agar bersemangat menuntut ilmu.“Mereka itu terlahir bukan untuk dikasihani, tapi untuk diberikan kesempatan, maka kita harus membukakan kesempatan itu agar mereka tidak merasa minder dan percaya punya kesempatan yang sama seperti anak-anak lainnya,” tuturnya.Dia mengajar anak-anak dengan hambatan penglihatan pada jenjang SMP dan SMA di SKH.


(prf/ega)