- Setelah masuk hari ke-25 pascabanjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, tumpukan kayu gelondongan masih menggunung di pemukiman warga dan Daerah Aliran Sungai (DAS).Kondisi ini terjadi di berbagai daerah terdampak, mulai dari Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.Di Aceh Tenggara, kayu gelondongan terlihat memenuhi pemukiman penduduk dan DAS Kali Alas, yang berada dalam kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I dan Sungai Mamas.Kayu-kayu tersebut terseret arus banjir bandang pada Kamis lalu dan hingga kini masih berserakan, termasuk di jalan nasional yang dikelola Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.Selain kayu, material lumpur dan bebatuan juga menempel tebal di badan jalan, memicu debu beterbangan ke rumah warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari.Baca juga: Pemerintah Buat Aturan Penggunaan Kayu Gelondongan Sisa Banjir Sumatera, Ini AlasannyaGubernur Aceh Muzakir Manaf memperbolehkan masyarakat memanfaatkan kayu gelondongan yang terbawa banjir untuk kebutuhan mendesak korban bencana.“Kayu gelondongan yang ada di lokasi banjir, silakan diambil untuk kebutuhan korban banjir, misalnya membuat tempat pengungsian sementara atau kebutuhan lainnya. Namun, harus tetap berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara,” ujar Muzakir saat meninjau lokasi banjir bandang di Desa Lawe Penanggalan, Kecamatan Ketambe, Sabtu dikutip dari Tribunnews.com.Dalam kunjungan tersebut, Muzakir didampingi Wakil Bupati Aceh Tenggara Heri Al Hilal, Sekretaris Daerah Yusrizal ST, serta jajaran organisasi perangkat daerah (OPD).Mereka meninjau kerusakan parah, termasuk di Pondok Pesantren Badrul Ulum dan rumah-rumah warga yang tertimbun kayu gelondongan berukuran besar.Baca juga: Bobby Nasution Izinkan Korban Banjir Sumut Ambil Kayu Gelondongan untuk Perbaiki RumahMuzakir menyebutkan, rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur seperti jalan nasional, jembatan, dan rumah warga akan dilakukan bersama Pemerintah Pusat melalui Kementerian PUPR dan Kementerian Perumahan Rakyat.Namun, ia menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah hunian sementara bagi para pengungsi.Selain Aceh Tenggara, Gubernur yang akrab disapa Mualem itu juga meninjau Jembatan Putus Mbarung di Kecamatan Babussalam, Jembatan Natam, serta lokasi pengungsian di Desa Leuser, Kecamatan Ketambe.MUHAMMAD ADIMAJA Warga korban bencana banjir dan tanah longsor berjalan di antara gelondongan kayu di Kelurahan Huta Nabolon, Kecamatan Tukka,Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Minggu . Bencana banjir dan tanah longsor di wilayah tersebut menyebabkan terputusnya akses keluar masuk warga di empat desa, sehingga warga kesulitan mendapatkan bantuan terutama beras, air bersih dan obat-obatan, serta berpotensi longsor susulan. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nzSorotan serupa disampaikan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla saat meninjau lokasi banjir di Kelurahan Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu .Menurut Jusuf Kalla, banjir besar tidak hanya dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga perubahan lingkungan di wilayah hulu, yang menyebabkan kayu-kayu hanyut menyumbat aliran sungai.“Banjir ini menimbulkan kerusakan yang cukup besar. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya kayu yang masuk ke sungai akibat perubahan lingkungan di bagian atas. Ini harus segera diselesaikan, terutama bulan ini dan bulan depan,” ujar JK dikutip dari Kompas.com.
(prf/ega)
Masyarakat Boleh Manfaatkan Kayu Pascabanjir Sumatera, Ini Penjelasan Pemerintah
2026-01-12 06:32:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:45
| 2026-01-12 05:37
| 2026-01-12 04:38










































