JAKARTA, — PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memacu pengembangan energi rendah karbon melalui biofuel dan Green Refinery sebagai strategi transisi energi serta penguatan ketahanan energi nasional. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan ganda, yakni memaksimalkan bisnis eksisting dan membangun bisnis rendah karbon.Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas Harian Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI Prayitno saat acara Brunchtalk Kilang Pertamina Untuk Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Hilirisasi, Transisi dan Ketahanan Energi di Jakarta, Rabu .“Strategi memaksimalkan bisnis eksisting dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas kilang. KPI juga membangun bisnis low carbon dengan mengembangkan Green Refinery dan produk berbahan baku nabati (biofuel),” kata Prayitno, melalui keterangannya, Rabu .Baca juga: Prabowo Bakal Resmikan Kilang Raksasa Pertamina Balikpapan di Desember Menurut dia, implementasi biofuel dijalankan melalui dua pendekatan.Pertama, co-processing, yaitu pencampuran bahan baku nabati dengan bahan fosil di kilang eksisting, yang memungkinkan produksi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) 2,4 persen berbahan minyak inti kelapa sawit atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil.Kedua, conversion, yakni pemrosesan bahan baku nabati 100 persen menjadi bahan bakar, termasuk produksi biodiesel Hydrotreated Vegetable Oil atau Pertamina Renewable Diesel (RD).KPI juga mengembangkan Green Refinery yang mengolah limbah nabati seperti minyak jelantah pada Kilang Cilacap dan akan diperluas ke Kilang Dumai serta Balongan.“Minyak jelantah bisa menciptakan added value. Kami sedang menyiapkan unit produksi baru di Kilang Cilacap untuk produksi SAF, pasarnya bisa dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Prayitno.Baca juga: Penerbangan Perdana SAF Pertamina, Tonggak Baru Energi Hijau IndonesiaKilang Cilacap sebelumnya telah melakukan pengiriman perdana SAF berbahan baku minyak jelantah untuk penerbangan Pelita Air Services rute Jakarta–Denpasar pada pertengahan Agustus 2025 dengan suplai sekitar 32 kilo liter.Produk tersebut telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091 serta menjadi SAF bersertifikat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.Untuk tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan 9 metric barrel dengan komposisi 2–3 persen minyak jelantah. Teknologi produksi menggunakan Co-Processing UCO dengan Katalis Merah Putih yang dibuat di dalam negeri.Prayitno menambahkan, langkah transisi energi ini turut menciptakan multiplier effect seperti pembukaan lapangan kerja, peningkatan produksi, dan nilai tambah domestik.“Upaya ini mendorong transformasi ekonomi berbasis sektor strategis, termasuk energi dan mineral, sekaligus mewujudkan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan,” katanya.Baca juga: Lalui Uji Ketat, Kilang Pertamina Pastikan Produk BBM Penuhi Spesifikasi Standar
(prf/ega)
Kilang Pertamina Kembangkan Energi Rendah Karbon Lewat Biofuel dan Green Refinery
2026-01-11 03:58:24
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:38
| 2026-01-11 02:09
| 2026-01-11 02:02
| 2026-01-11 01:47










































