TAHUN 2025 bukan tahun yang ramah. Sama sekali bukan. Kalau ada yang bilang ekonomi dunia sedang baik-baik saja, dia pasti sedang bermimpi di siang bolong.Dua raksasa dunia, Amerika Serikat dan China, sedang tidak baik-baik saja. Satunya "turun gigi", satunya lagi "kehabisan napas".Dan kita, Indonesia? Seperti biasa. Kita adalah pelanduk di tengah-tengahnya. Bedanya kali ini, pelanduknya tidak mati terinjak, tapi pusing tujuh keliling. Mari kita bedah satu per satu.China memulai tahun 2025 dengan gagah. Pertumbuhan ekonomi kuartal pertamanya 5,4 persen. Angka yang cantik. Inflasi rendah, hanya 0,5 persen. Surplus dagangnya gila-gilaan: 138 miliar dollar AS di bulan Januari saja.Namun, tunggu dulu. Jangan terbuai angka. Menjelang akhir tahun, napas Naga ini mulai tersengal.Kuartal III melambat ke 4,8 persen. Surplus dagang menyusut ke 111 miliar dollar AS. Apa masalahnya? Masalah klasik: ketimpangan.Ekonomi China terlalu bertumpu pada produksi. Pabrik-pabrik ngebul terus. Ekspor digenjot. Rakyatnya sendiri? Hemat luar biasa. Konsumsi domestik "mlempem". Investasi swasta lesu.Ini mengingatkan saya pada ketimpangan struktural. Xi Jinping mungkin bisa marah dan menyiapkan 100 rudal. Namun, rudal tidak bisa membeli barang di pasar.Baca juga: Orang Miskin Ditolong atau Didorong?Ekonomi yang hanya mengandalkan supply-side tanpa diimbangi demand domestik yang kuat, ibarat orang berlari dengan satu kaki. Capek. Ekonomi China sudah keletihan.Di seberang samudera, Paman Sam setali tiga uang. Awal tahun, Amerika tumbuh 2 persen. Inflasi masih "menggigit" di 3 persen.Defisit neraca dagangnya parah: tekor 128 miliar dollar AS. Donald Trump, dengan gaya khasnya, langsung main kayu: tarif resiprokal. Pajak impor dinaikkan. Balas membalas dengan Beijing.Hasilnya? Di akhir tahun inflasi memang turun ke 2,7 persen. Namun, harga yang harus dibayar mahal: pengangguran naik jadi 4,6 persen.Sektor riil mulai "bengek". Lapangan kerja hanya tumbuh di sektor kesehatan dan bansos. Sektor produktif lainnya? Macet.Di sinilah Teori Ekspektasi Rasional (Rational Expectations) dari Robert Lucas bekerja dengan sempurna.Teori ini bilang: pelaku ekonomi itu cerdas. Mereka bertindak berdasarkan antisipasi masa depan.Lihat saja data impor AS. Di awal tahun melonjak drastis. Kenapa? Karena pengusaha AS tahu Trump bakal menaikkan tarif.Mereka "menimbun" barang duluan sebelum pajak naik. Begitu tarif berlaku di akhir tahun, impor langsung anjlok. Pelaku pasar sudah selangkah di depan pemerintahnya.Lantas, bagaimana nasib Indonesia di tengah drama dua raksasa yang sedang "sakit" ini? Dampaknya ke kita jelas: ganda. Kena di ulu hati (fiskal) dan kena di kepala (moneter).Secara moneter, Bank Indonesia (BI) sepanjang 2025 seperti berjalan di atas tali tipis. Ngeri-ngeri sedap.
(prf/ega)
Tahun 2026: Berkelit dari Badai Ketidakpastian Ekonomi
2026-01-11 03:37:13
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:35
| 2026-01-11 03:30
| 2026-01-11 03:03
| 2026-01-11 01:44
| 2026-01-11 01:38










































