JAKARTA, - Ketergantungan Indonesia terhadap impor plasma darah yang selama ini mencapai 100 persen segera memasuki babak akhir. Melalui Indonesia Investment Authority (INA), Indonesia bersiap mencatat sejarah baru di industri kesehatan nasional dengan membangun pabrik fraksionasi plasma darah atau derived medicinal products (PDMP) pertama di Tanah Air yang juga diproyeksikan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Vice President ESG INA, Fetriza Rinalddy, mengatakan selama ini kebutuhan plasma darah nasional sepenuhnya dipenuhi melalui impor. Melalui kerja sama strategis dengan SK Plasma, yang merupakan bagian dari SK Group asal Korea Selatan, Indonesia kini mulai membangun fasilitas fraksionasi plasma darah di dalam negeri. Proyek strategis tersebut disampaikan Fetriza dalam program Naratama Kompas.com, berjudul "Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA" yang dipandu Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin dan dipublikasikan pada Rabu . “Kami bekerja sama dengan SK Plasma dari Korea Selatan untuk membangun pabrik fraksionasi plasma darah pertama di Indonesia. Selama ini kita 100 persen impor plasma darah. Ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara,” ujar Fetriza.Baca juga: Laporan LPEM UI: Investasi INA Ubah Infrastruktur Jadi Nilai Ekonomi dan Sosial Kehadiran fasilitas tersebut menandai perubahan besar dalam industri kesehatan nasional. Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai pasar, tetapi mulai bertransformasi menjadi produsen produk berbasis plasma darah. Pabrik fraksionasi plasma darah ini dijadwalkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Fasilitas tersebut akan berlokasi di Karawang International Industrial City dan memproduksi Produk Obat Derivat Plasma (PODP), seperti albumin dan imunoglobulin, dengan kapasitas pengolahan hingga 600.000 liter plasma per tahun. INA dan SK Plasma telah mendirikan PT SKPlasma Core Indonesia, perusahaan patungan (joint venture/JV), yang diumumkan pada 14 November 2024. Pembentukan entitas usaha ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian investasi antara kedua pihak. Baca juga: Total Investasi INA Rp 65,4 Triliun hingga Mei 2025 Melalui kemitraan strategis tersebut, INA menjadi pemegang saham terbesar kedua di PT SKPlasma Core Indonesia. Kontrak ini juga menjadi yang pertama bagi perusahaan asal Korea Selatan yang berhasil menarik investasi dari INA. Kesepakatan itu dipandang sebagai pengakuan atas pengalaman operasional SK Plasma dalam pengelolaan pabrik plasma PDMP, serta keunggulan teknologi yang dimiliki. Di sisi lain, kerja sama juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk mendorong kemandirian nasional dalam penyediaan obat derivat plasma. SK Plasma telah memperoleh izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk mengoperasikan bisnis PDMP dan mendirikan perusahaan patungan SKPlasma Core Indonesia guna membangun fasilitas fraksionasi plasma tersebut. Baca juga: Genjot Kredit Properti, Bank INA Gandeng Alam Sutera
(prf/ega)
Bye-bye Impor! Indonesia Bangun Pabrik Plasma Darah Terbesar di ASEAN
2026-01-12 05:11:58
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:23
| 2026-01-12 05:08
| 2026-01-12 04:30
| 2026-01-12 04:18
| 2026-01-12 03:30










































