Cerita Guru SLB di Mataram, Menebar Ilmu Lewat Bahasa Isyarat

2026-02-02 09:53:35
Cerita Guru SLB di Mataram, Menebar Ilmu Lewat Bahasa Isyarat
MATARAM, - Lita Wahyuni, seorang guru di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), baru saja merayakan Hari Guru Nasional bersama rekan-rekannya, kepala sekolah dan murid-murid berkebutuhan khusus.Lita, yang berusia 28 tahun, telah mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak tahun 2020, ketika ia berusia 23 tahun."Karena saya linier pendidikan luar biasa dan lulus pun ngajarnya di SLB, alhamdulillah guru dibutuhkan banyak di sini sehingga tidak sulit mengajar di sini," ungkap Lita saat ditemui di SLBN 2 Mataram, Selasa .Dalam kesehariannya, Lita mengajar siswa sekolah dasar luar biasa (SDLB) dengan kekhususan tuna rungu, menggunakan bahasa isyarat.Baca juga: Keteguhan Nita, Guru yang Memberikan Pendampingan untuk Anak-anak Berkebutuhan KhususAwalnya, ia mengaku mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan siswa berkebutuhan khusus tersebut.Namun, setelah sering berinteraksi, Lita kini telah mahir menggunakan bahasa isyarat dan sering diundang sebagai penerjemah bahasa isyarat di berbagai instansi pemerintah."Menjadi guru SLB merupakan pengalaman yang seru dan menantang," kata Lita.Ia menjelaskan bahwa di SLB, ia berhadapan dengan berbagai macam karakter siswa yang masing-masing memerlukan penanganan khusus."Awalnya adalah sebuah tantangan bagi saya, tentang perilaku mereka yang tiba-tiba melempar sepatu atau tiba-tiba nangis di lapangan tanpa saya tahu sebabnya. Namun, alhamdulillah setelah 5 tahun, saya bisa cukup nyambung," tambahnya.Lita menekankan pentingnya memahami hambatan dan potensi masing-masing siswa."Kadang kita stres jika ada murid yang nakal, tetapi di situlah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa menemukan potensinya dan cara mengeluarkan potensi itu," jelasnya.Baca juga: Bupati Pasuruan Akan Beri Sanksi Berat kepada Nur Aini sang Guru yang ViralDalam momen perayaan Hari Guru ini, Lita berharap para siswanya semakin semangat bersekolah dan orang tua tetap berkomitmen mendidik anak-anak mereka di rumah.Ia juga berharap masyarakat dapat lebih sadar dan inklusif terhadap disabilitas.Kepala SLBN 2 Mataram, Winarna, menjelaskan bahwa sekolah ini memiliki empat jenjang pendidikan yaitu TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB, dengan total 195 siswa.Para siswa memiliki lima kekhususan atau ketunaan, termasuk hambatan pendengaran dan komunikasi, hambatan intelektual, serta hambatan fisik dan motorik.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-02-02 09:09