ACEH UTARA, – Hasanuddin (45) baru saja selesai memasak di dapur umum pengungsi korban banjir di Desa Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Kamis .Pria ini merupakan satu dari 650 kepala keluarga yang mengungsi akibat banjir disertai lumpur pada 26 November 2025 lalu.Tiga pekan mereka menetap di bawah meunasah (mushala) desa itu.“Rumah kami hancur, tanah tak punya lagi, lalu ke mana kami harus pulang?” katanya lirih sambil menyeka keringat siang itu.Baca juga: 21 Malam Tanpa Cahaya, Pengungsi Banjir Aceh Utara Bertahan dengan Lampu Teplok dan LilinDia tidak sendiri, 120 kepala keluarga di desa itu kehilangan rumah disapu banjir bandang.Perkampungan rata dengan tanah, sedangkan lokasi rumah berubah menjadi lumpur setinggi satu hingga dua meter.“Rumah hancur, tenda keluarga yang bagus tidak punya. Ke mana kami akan pulang setelah ini, Pak Presiden?” kata dia.Hingga kini, mereka bertahan di sekitaran meunasah.Bangunan itu khas rumah panggung. Di kolong itulah mereka berteduh dan sekitar bangunan.“Kami butuh selimut, malam dingin sekali. Tenda sangat perlu, kelambu juga,” kata dia. Untuk bahan pangan, hingga minggu ketiga pascabanjir dipastikan mencukupi.Dia pun tidak mengeluhkan bahan pangan. “Sekarang banyak bantuan, setelah ini entahlah. Apakah ada bantuan atau tidak,” ujar dia.Dia merincikan, 120 kepala keluarga kehilangan rumah, 110 kepala keluarga lainnya rumah hancur, dan rumah rusak ringan sebanyak 350 unit.“Masalahnya, rumah yang rusak ringan itu pun penuh lumpur. Ke mana lumpur satu kampung ini akan dibuang?” ucap Hasanuddin. Dia pun mengaku bingung akan pulang ke mana. Hasnuddin menduga, pemerintah akan mengakhiri masa tanggap darurat dan beralih ke masa rehabilitasi.
(prf/ega)
"Rumah Hancur, Tenda Tak Punya, ke Mana Kami Pulang Pak Presiden?"
2026-01-12 05:28:29
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:42
| 2026-01-12 04:52
| 2026-01-12 04:06
| 2026-01-12 04:00
| 2026-01-12 03:55










































