Media Asing Soroti Kematian Orangutan Tapanuli, Satwa Langka yang Tersapu Banjir Sumatera

2026-01-12 05:39:50
Media Asing Soroti Kematian Orangutan Tapanuli, Satwa Langka yang Tersapu Banjir Sumatera
- Sejumlah media asing menyoroti matinya orangutan akibat bencana banjir di Sumatera, yang dikhawatirkan mengancam kepunahan spesies yang termasuk langka di dunia tersebut. Salah satu media asing tersebut adalah BBC dalam artikelnya yang berjudul "Fears grow that world's rarest apes were swept away in Sumatran floods" yang diterbitkan pada Sabtu . BBC mewawancarai tim kemanusiaan, pakar konservasi, serta ahli biologi, dan menyebutkan bahwa sejak Topan Senyar menghancurkan Sumatera pada 25 November 2025, primata yang terancam punah tersebut belum terlihat lagi di daerah itu.BBC juga menyoroti ditemukannya bangkai satwa yang diyakini orangutan di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah oleh para pekerja kemanusiaan.Bangkai tersebut ditemukan setengah terkubur lumpur dan kayu yang diduga terseret banjir dan longsor. Foto bangkainya telah diverifikasi oleh para ahli konservasi.Baca juga: Malaysia Tawarkan Bantuan Rp 2 Juta untuk Mahasiswa Indonesia Korban Banjir Aceh-SumateraDeckey Chandra, pekerja tim kemanusiaan di Tapanuli yang sebelumnya bekerja di bidang konservasi orangutan Tapanuli, awalnya tidak yakin dengan penemuan bangkai tersebut. "Ketika pertama kali melihatnya, saya tidak yakin apa itu, karena agak rusak, mungkin karena terkubur di bawah lumpur dan kayu gelondongan," kata Chandra, sebagaimana dikutip BBC."Saya telah melihat beberapa mayat manusia dalam beberapa hari terakhir, tetapi ini adalah mayat satwa liar pertama. Mereka biasa datang ke tempat ini untuk makan buah-buahan. Tapi sekarang tampaknya tempat ini telah menjadi kuburan mereka," lanjutnya.Orangutan Tapanuli sebelumnya hanya berjumlah kurang dari 800. Ahli konservasi mengatakan, bahkan kematian satu ekornya saja dapat berdampak serius pada spesies tersebut. Spesies orangutan Tapanuli sendiri baru ditemukan pada tahun 2017. Sementara itu, dua spesies lainnya adalah spesies orangutan Kalimantan dan orangutan Sumatera.Baca juga: Media Asing Soroti Banjir Sumatera Tewaskan 1.000 Orang Lebih, Singgung RI Belum Minta Bantuan InternasionalAhli Biologi sekaligus Direktur pelaksana Borneo Futures di Brunei, Profesor Erik Meijaard, mengaku terkejut melihat foto bangkai dari orangutan tersebut."Yang mengejutkan saya adalah semua daging di wajahnya telah terkoyak. Jika beberapa hektar hutan longsor besar-besaran, bahkan orangutan yang perkasa pun tak berdaya dan hanya akan hancur berkeping-keping," kata Meijaard.Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa melalui citra satelit, 4.800 hektar hutan di lereng gunung terlihat hancur akibat tanah longsor. Namun, karena sebagian citra satelit tertutup awan, ia mengekstrapolasi angka kerusakan menjadi 7.200 hektar dalam pengamatan awalnya."Area yang hancur itu diperkirakan dihuni oleh sekitar 35 orangutan, dan mengingat dahsyatnya kerusakan yang terjadi, kami tidak akan terkejut jika semuanya mati. Itu merupakan pukulan besar bagi populasi mereka," kata Meijaard."Area-area ini tampak seperti tanah kosong di citra satelit, padahal dua minggu lalu masih berupa hutan primer. Hancur total. Banyak petak seluas beberapa hektar yang benar-benar gundul. Pasti mengerikan berada di hutan saat itu," lanjutnya.Baca juga: Mengapa Influencer Lebih Dipercaya Mengelola Donasi untuk Korban Banjir di Sumatera? Ini Penjelasan Sosiolog


(prf/ega)