BALIKPAPAN, — Tidak pernah terlintas dalam benak Paidi (62) bahwa sebagian besar hidupnya akan ia jalani sebagai penggali makam.Pria kelahiran Balikpapan itu mengaku profesinya bermula dari kebiasaannya sejak kecil membantu pemakaman warga di sekitar rumahnya.“Kebetulan rumah saya dekat makam. Dulu saya sering bantu menguburkan jenazah. Ada kepuasan batin, saya juga tidak tahu kenapa,” kata Paidi saat ditemui, Jumat .Karena sering membantu mengurus jenazah, Paidi kemudian diperbantukan sebagai tukang gali makam.Profesi itu telah ia jalani selama 25 tahun terakhir, terhitung sejak usia 37 tahun."Saya dulu cuma kuli bangunan, pokoknya kerja serabutan," ujar warga RT 20, Kelurahan Telagasari tersebut.Selain menggali makam, Paidi juga pernah bekerja sebagai wakar atau penjaga malam di puskesmas selama sekitar 8 tahun.Pada 2023, ia memutuskan berhenti menjadi wakar dan memilih fokus bekerja di TPU Muslimin Sentosa, Kelurahan Telagasari, Balikpapan Kota.Sebagai tenaga bantuan, Paidi tidak memiliki penghasilan tetap.Upah yang ia terima sepenuhnya bergantung pada keluarga jenazah, umumnya lebih dari Rp 1 juta untuk satu pemakaman.“Kalau berempat dibagi empat, kalau berlima dibagi lima,” ujarnya.Ia menegaskan tidak pernah mematok tarif dan menyerahkan urusan nominal kepada rekan kerja yang terlibat.Jumlah upah biasanya dipengaruhi kondisi tanah. TPU Muslimin Sentosa kini semakin padat, dengan lahan miring serta tanah berpasir sehingga proses penggalian jauh lebih berat.“Kalau makamnya sulit digali, keluarga biasanya memahami dan memberi upah lebih,” ucapnya.Selain menggali, Paidi juga sering diminta membersihkan dan memugar makam keluarga.
(prf/ega)
Hidup Bersama Kematian, Cerita Paidi Menjadi Penggali Makam Selama 25 Tahun
2026-01-12 06:19:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:27
| 2026-01-12 05:28
| 2026-01-12 04:47
| 2026-01-12 04:36
| 2026-01-12 04:03










































