Jauh dari Laut, Dekat pada Warisan: Pindang Bojong Nangka yang "Hidup" di Dataran Tinggi

2026-01-11 03:51:33
Jauh dari Laut, Dekat pada Warisan: Pindang Bojong Nangka yang
BANDUNG, - Di lereng Pasirjambu yang berhawa dingin, jauh dari debur ombak dan aroma asin laut, sebuah kampung kecil diam-diam menyimpan denyut tradisi kuliner yang bertahan puluhan tahun.Kampung Bojong Nangka, RW 06, Desa Cukanggenteng, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menjadi anomali yang hidup. Di kawasan dataran tinggi yang diselimuti kabut pagi dan lanskap pertanian, kampung ini tumbuh sebagai sentra ikan pindang.Di tempat inilah ikan-ikan laut menemukan takdir baru. Direbus perlahan, disabari waktu, dan dipelihara rasa, ikan-ikan itu berubah menjadi pindang yang dikenal di pasar-pasar tradisional Bandung Selatan.Bojong Nangka tak pernah mempromosikan diri sebagai kampung pindang. Tradisi itu berjalan apa adanya, diwariskan dari dapur ke dapur, dari tangan renta ke jemari muda.Baca juga: Ilham Habibie Dorong Variasi Pindang di KarawangSalah satu penjaga warisan itu adalah M Ramdan (28). Usianya masih muda, tetapi ingatannya tentang pindang telah menua bersama asap penggodokan. Sejak duduk di bangku SMP, ia sudah akrab dengan bau rempah dan panas uap dari dapur produksi.Keterampilan itu bukan ia pelajari dari buku atau pelatihan, melainkan dari sang nenek. Resep tak pernah dicatat, tetapi disimpan dalam naluri dan kebiasaan.Saat bekerja, tangan Ramdan bergerak tanpa ragu. Takaran bumbu tak pernah ditimbang. Garam, gula, dan rempah disatukan dengan keyakinan, seperti mengulang doa yang sama setiap hari.“Ini usaha keluarga, dari nenek. Turun-temurun,” kata Ramdan pelan, Rabu .Jenis pindang yang dibuat pun setia pada pakem lama. Bandeng, deles, salem, tongkol, dan ikan mas. Tak ada eksperimen, tak ada perluasan varian.“Dari dulu itu yang diajarkan orangtua. Jadi sudah tahu betul prosesnya,” ujar Ramdan.Baca juga: Mengenal Pindang Gombyang Manyung, Makanan Khas Indramayu Terbuat dari IkanIa bukan satu-satunya pembuat pindang di kampung itu. Hampir satu RW memiliki keterampilan serupa. Namun, persaingan nyaris tak terasa.Para pembuat pindang telah lama membagi wilayah pemasaran secara tak tertulis. Ada yang rutin memasok ke Pasar Katapang, Pasar Soreang, hingga Pasar Ciwidey. Setiap orang tahu batasnya, dan rasa saling percaya menjadi pagar paling kokoh.Ironisnya, meski produknya tersebar luas, kampungnya sendiri nyaris tak dikenal. Tak ada papan penanda, tak ada pembeli yang sengaja datang. Rumah-rumah produksi bekerja dalam senyap.“Belum pernah ada yang beli langsung ke sini,” kata Ramdan. Informasi tentang Bojong Nangka beredar dari mulut ke mulut para pedagang.KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah M. Ramdan (28) warga Kampung Bojong Nangka, RW 06, Desa Cukanggenteng, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat sedang memilah pindang hasil buatannya, Rabu


(prf/ega)