JAKARTA, - Konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III-2025 ini.Namun demikian, sejumlah pakar ekonomi menjelaskan, konsumsi rumah tangga pada kuartal III-2025 melambat dibandingkan dengan paruh pertama yang lalu.Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa pertumbuhan ekonomi tetap bera di atas 5 persen di tengah-tengah penurunan komponen utamanya?Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 mencapai 5,04 persen secara tahunan atau year on year (yoy).Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2025 yang tercatat 5,12 persen, tetapi masih menunjukkan ketahanan aktivitas ekonomi di tengah tekanan global dan domestik.Baca juga: Data BPS: Pengangguran Turun 4.092 Orang, Pekerja Paruh Waktu Naik 1,66 JutaLantas sejauh apa konsumsi rumah tangga berpengaruh pada angka pertumbuhan ekonomi Indonesia?Ekonom Kisi Asset Management Arfian Prasetya Aji menjelaskan, dilihat dari penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama.Dari sudut pandang pengeluaran, kontribusi konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 53,1 persen, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 4,89 persen dan relatif melambat apabila dibandingkan kuartal sebelumnya, sebesar 4,97 persen."Dengan demikian, secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi tumbuh sebesar 5,04, melambat dibanding kuartal lalu 5,12 persen karena adanya perlambatan dari sisi konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB)," kata dia kepada Kompas.com.Dengan data tersebut, ia menjelaskan, berarti terjadi perlambatan dari belanja masyarakat secara keseluruhan.Baca juga: BPS: Pekerja Formal di Indonesia Naik, Tapi Mayoritas Masih Berpendidikan RendahIni juga terkonfirmasi juga dengan indeks keyakinan masyarakat (IKK) yang per akhir September lalu merosot ke level terendah sejak September 2022, atau waktu pandemi Covid-19."Sebabnya apa? Keyakinan konsumen hanya terjaga dan meningkat pada kelompok pengeluaran tertinggi di atas Rp 4,1 juta dan kelompok terendah dengan pengeluaran Rp 1 juta sampai Rp 2 juta," ungkap dia.Sebaliknya, IKK menurun pada kelompok pengeluaran menengah atau pada rentang Rp 2,1 juta sampai Rp 4 juta.Padahal, kelompok menengah ini merupakan kontributor utama dalam ekonomi secara nasional.Jadi, berdasarkan data ini dapat menunjukkan bahwa PDB memang ada perlambatan, terutama imbas adanya tekanan daya beli pada kelas menengah.
(prf/ega)
Konsumsi Rumah Tangga Turun, Mengapa Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Bertahan di Atas 5 Persen?
2026-01-11 23:16:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:44
| 2026-01-11 20:55
| 2026-01-11 20:53










































