Produksi Lada Anjlok 50 Persen, Uang Rp 2,6 Triliun Hilang Tiap Tahun

2026-01-12 06:20:52
Produksi Lada Anjlok 50 Persen, Uang Rp 2,6 Triliun Hilang Tiap Tahun
PANGKALPINANG, - Komoditas lada Bangka Belitung, khususnya Muntok White Pepper, kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.Hal ini disebabkan oleh berkurangnya lahan dan penurunan jumlah produksi lada di daerah tersebut.Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) Bangka Belitung, Syukriah HG mengungkapkan, budidaya lada yang merupakan salah satu sektor unggulan selain tambang timah, kini menghadapi krisis."Terjadi penyusutan yang signifikan untuk lada Bangka Belitung dalam beberapa tahun terakhir," kata Syukriah saat Focus Group Discussion Green Economy di Pangkalpinang, Kamis .Baca juga: Menilik Budi Daya Lada Hitam di Lampung, Warisan Abad Ke-16, Akankah Kembali Mendunia?Syukriah menjelaskan, dalam kurun waktu lima tahun (2019 hingga 2024), luas areal tanaman lada menyusut 32 persen, dari 29.325 hektar menjadi 19.909 hektar.Penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya jumlah pekebun, yaitu 33 persen, dari 62.672 keluarga menjadi hanya 41.916 pekebun."Paling mengkhawatirkan, volume produksinya anjlok 50 persen, dari 33.458 ton menjadi 16.717 ton," jelasnya.Menanggapi krisis tersebut, Kanwil DJPb Bangka Belitung berperan sebagai Regional Chief Economist dan Financial Advisor menggali informasi untuk mengetahui kondisi terkini potensi lada yang telah terkenal sejak berabad lalu."Tim kecil kami di Kanwil mengadakan studi literatur dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait," ungkap Syukriah.Syukriah mengidentifikasi permasalahan yang bersifat multidimensi.Baca juga: Kunjungan Tamu Hotel Bangka Belitung Turun 4,35 Persen, Terendah di SumateraPada sisi on-farm (budidaya), terdapat masalah klasik seperti serangan penyakit, biaya produksi yang tinggi, dan peralihan pekebun ke penambangan timah serta tanaman lain seperti sawit.Di sisi off-farm (tata niaga), terdapat masalah struktural seperti harga jual yang tidak stabil, struktur pasar yang cenderung oligopolistik, dominasi trader, dan praktik ijon yang melemahkan posisi tawar petani."Potensi ekonomi dari komoditas lada ini sangat menjanjikan. Mengacu pada data International Pepper Community (IPC) per Oktober 2025, harga lada putih di pasar global mencapai USD 10.085 per metrik ton. Jika kita konversikan, dengan asumsi kurs Rp 16.000, harganya setara dengan Rp 161.360 per kilogram," beber Syukriah.Dia menambahkan, jika produksi lada kembali ke level puncaknya di tahun 2019, yaitu 33.458 ton, nilai ekonominya bisa mencapai Rp 5,39 triliun."Dibandingkan nilai saat ini, ada potensi ekonomi yang hilang sebesar Rp 2,69 triliun setiap tahunnya," ungkapnya.


(prf/ega)