BBM Langka, Warga Tarutung Tapanuli Utara Antre di SPBU hingga 15 Jam

2026-01-17 02:28:49
BBM Langka, Warga Tarutung Tapanuli Utara Antre di SPBU hingga 15 Jam
TAPANULI UTARA, — Kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax masih melanda kawasan Tapanuli Utara, Sumatera Utara, hingga Minggu .Kondisi ini memaksa warga dan pengendara di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, mulai dari Sipirok, Tarutung, Sarulla, hingga Siborong-borong, rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar.Di SPBU Tarutung, seorang sopir angkutan kota (angkot) bernama Gabe (31) menghabiskan waktu hingga 15 jam hanya untuk mengisi tangki mobilnya.Gabe mengaku sudah memarkirkan kendaraannya dalam antrean sejak pagi hari dan baru mendapatkan giliran pengisian pada malam hari pukul 21.00 WIB."Sudah dari pagi ini di sini, dari jam 06.00 WIB. Enggak ada stoknya, makanya lama," kata Gabe saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu malam.Baca juga: Prabowo Sindir Bupati Aceh Selatan yang Pergi Umrah saat Banjir: Kalau Mau Lari, Copot SajaPenantian panjang Gabe terasa semakin berat karena pihak SPBU menerapkan pembatasan pembelian akibat stok yang menipis.Pengendara tidak diperbolehkan mengisi tangki hingga penuh (full tank) dan pembeliannya dibatasi maksimal 20 liter."Sudah lama antre, enggak bisa penuh juga. Cuma Rp 200.000 saja boleh isinya, full-nya Rp 300.000 biasanya," ujar Gabe dengan raut kecewa.Menurut Gabe, kelangkaan stok BBM ini terjadi secara merata di seluruh SPBU di wilayah Tapanuli Utara.Hal ini membuatnya harus bertahan dalam antrean meski harus kehilangan pendapatan karena tidak bisa menarik penumpang seharian."Di mana-mana, semuanya sama. Enggak ada semua stoknya, kalau ada enggak mungkin aku antre dari pagi begini," tuturnya.Baca juga: Pascabanjir dan Longsor, 45 Desa di Tapanuli Masih Terisolasi, Berikut DaftarnyaIa pun mendesak pemerintah pusat untuk tidak hanya fokus pada titik bencana di wilayah tetangga, tetapi juga memperhatikan dampak di daerah penyangga seperti Tapanuli Utara yang sudah dua pekan mengalami kesulitan BBM."Tolong lah pemerintah, menteri, diperhatikan kami ini. Masa mau beli minyak (BBM) saja sulit kali?" ucapnya.Kondisi serupa juga terjadi di SPBU kawasan Kecamatan Siborong-borong.Antrean kendaraan mengular hingga lebih dari 1 kilometer dan memakan badan jalan dari arah utara ke selatan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-17 01:42