Dugaan Mark Up Whoosh, KAI Siap Suplai Data dan Beri Kesaksian

2026-01-12 04:56:57
Dugaan Mark Up Whoosh, KAI Siap Suplai Data dan Beri Kesaksian
JAKARTA, - PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) siap menyuplai data dan memberi kesaksian atas dugaan mark-up dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Direktur Utama (Dirut) PT KAI (Persero) Bobby Rasyidin menyatakan, sejauh yang ia tahu, KCIC patuh dan taat kepada hukum.Baca juga: Eks Dirut KAI Ignasius Jonan Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas Polemik Kereta Cepat Whoosh?"Yang jelas PT Kereta Cepat Indonesia-China sangat patuh dan taat kepada hukum. Dan kami sangat mendukung permintaan-permintaan data atau kesaksian dari KPK," kata Bobby di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin .Adapun saat ini, pihaknya sudah berdiskusi dengan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mencari cara terbaik dalam merestrukturisasi utang KCJB."Kami sudah koordinasi dengan Danantara, sebagai holding dari KAI. Lagi dibicarakan antara Danantara dengan pemerintah juga tentunya," tutur Bobby.Lebih lanjut ia memastikan, pertemuannya dengan Prabowo hari ini tidak secara spesifik membahas kereta cepat.Hanya saja, Prabowo menyinggung bahwa masalah kereta cepat harus segera dibicarakan."Ya lebih banyak membahas mengenai layanan kereta komuter, terutama yang ada di Jabodetabek. Tapi beliau sedikit menyinggung bahwa ini akan segera dibicarakan, yang untuk kereta cepat itu," jelas Bobby.Sebagai informasi, KCJB alias Whoosh kini menghadapi beban utang yang cukup berat.KAI selaku induk usaha dan salah satu pemegang saham terbesar, bersama dengan tiga BUMN lainnya, harus menanggung renteng kerugian dari Whoosh sesuai porsi sahamnya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PT PSBI).Baca juga: PKS Kritik Proyek Kereta Cepat Whoosh: Pelunasan Utang Jangan Menggunakan APBNDalam laporan keuangan per 30 Juni 2025 (unaudited) yang dipublikasikan di situs resminya, entitas anak KAI, PT PSBI, tercatat merugi hingga Rp 4,195 triliun sepanjang 2024.Artinya, dalam sehari saja, bila menghitung dalam setahun ada 365 hari, konsorsium BUMN Indonesia harus menanggung rugi dari beban KCIC sebesar Rp 11,493 miliar per hari.Kerugian itu masih berlanjut tahun ini. Hingga semester I-2025 atau periode Januari–Juli, PSBI sudah membukukan kerugian sebesar Rp 1,625 triliun.


(prf/ega)