Drone Ungkap Kehidupan Rahasia Gajah, Apa yang Ditemukan?

2026-01-12 07:33:27
Drone Ungkap Kehidupan Rahasia Gajah, Apa yang Ditemukan?
- Dulu, drone identik dengan suara bising yang membuat kawanan gajah lari menjauh dari ladang. Bahkan, tim konservasi sempat memanfaatkan reaksi itu untuk menggiring gajah menjauhi area pertanian. Namun sebuah penelitian terbaru dari Save the Elephants (STE) dan University of Oxford mengubah persepsi tersebut.Ketika diterbangkan pada ketinggian stabil dan cukup tinggi, drone ternyata tidak lagi membuat gajah panik. Justru, hewan cerdas ini dengan cepat beradaptasi dan kembali beraktivitas seperti biasa. Temuan ini mengubah drone dari sekadar alat pengusir menjadi platform penelitian bernilai tinggi yang minim gangguan.Baca juga: Degradasi Habitat di Bengkulu Dorong Gajah Sumatra Menuju Ambang KepunahanSelama puluhan tahun, kajian perilaku gajah mengandalkan mobil pengamatan, tenda kamuflase, hingga menara. Pendekatan klasik itu terbatas pada apa yang bisa dilihat dari permukaan tanah. Drone kini membuka sudut pandang baru: bidikan vertikal yang memperlihatkan dinamika kelompok dalam satu frame.Dengan kamera stabil dan sensor canggih, peneliti dapat mengamati jarak antarindividu, cara berjalan, pola interaksi, hingga respon mereka terhadap lingkungan. Ketika dipadukan dengan kecerdasan buatan, data tersebut bisa mengungkap pola-pola halus yang sulit, bahkan mustahil, ditangkap oleh mata manusia.“Keanekaragaman hayati sedang mengalami krisis, namun kita tidak tinggal diam,” ujar CEO Save the Elephants, Frank Pope. “Teknologi baru memperluas kemampuan kita untuk memahami, menganalisa, dan mengamati dunia liar… Penelitian ini menjanjikan untuk membuka jendela baru mengenai kehidupan gajah.”Baca juga: The Ebony Project: Saat Gajah Jadi Penyelamat Musik dan HutanPenelitian dilakukan melalui 35 penerbangan quadcopter di atas 14 keluarga gajah yang sudah diidentifikasi di Cagar Alam Samburu dan Buffalo Springs, Kenya bagian utara.Hasilnya menarik:“Kunci utamanya ada pada cara drone diterbangkan,” jelas penulis utama, Angus Carey-Douglas. “Tidak semua gajah terganggu… dan gajah yang tadinya terganggu lama-lama menjadi kurang gelisah baik selama penerbangan tunggal maupun setelah paparan berulang.”Ia juga menambahkan bahwa efek habituasi ini kemungkinan bertahan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, menunjukkan kemampuan belajar dan adaptasi gajah yang sudah dikenal luas.Baca juga: Benarkah Gajah Tidak Pernah Lupa?live science Peneliti menemukan jika gajah Afrika (Loxodonta africana) menghindari lebah madu yang marah.Ketika gajah sudah terbiasa, drone dapat merekam perilaku alami tanpa gangguan: siapa yang memulai perpindahan kelompok, bagaimana anak gajah dilindungi, bagaimana struktur kawanan berubah ketika menghadapi ancaman, hingga bagaimana individu menjaga jarak satu sama lain.Pada malam hari, kamera termal menjadi kunci. Teknologi ini memperlihatkan perilaku tidur gajah—kapan, di mana, dan berapa lama mereka beristirahat—serta aktivitas sunyi lain yang sulit diamati manusia.“Kamera termal pada alat menembus kegelapan, membuka studi terperinci tentang perilaku malam hari dan pola tidur,” kata Profesor Fritz Vollrath.Yang lebih menjanjikan, tim peneliti kini hampir merampungkan alat computer vision yang mampu memperkirakan usia dan jenis kelamin gajah secara otomatis dari cuplikan udara, sehingga analisis demografis dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.Baca juga: Gajah yang Tinggal Dekat Manusia Cenderung Lebih Berani dan PenasaranMeski drone tetap berfungsi sebagai alat pengusir di area pertanian, perannya kini semakin besar dalam riset dan perlindungan satwa.Dengan protokol penerbangan yang tepat—ketinggian lebih tinggi, jalur stabil, dan durasi singkat—drone menjadi cara berbiaya rendah, tidak invasif, dan efektif untuk memantau perilaku, pergerakan, serta respons gajah terhadap perubahan lingkungan.


(prf/ega)