Mengenal SAGI 127, Layanan Aduan MBG yang Hadir 24 Jam

2026-01-17 01:08:51
Mengenal SAGI 127, Layanan Aduan MBG yang Hadir 24 Jam
Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan layanan baru pengaduan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Layanan ini bernama Sahabat Sentra Aduan Gizi Interaktif (SAGI) 127.Mengutip dari akun Instagram Indonesia Baik (@indonesiabaik.id), layanan call center Sahabat Sentra Aduan Gizi Interaktif (SAGI) 127 hadir 24 jam sehingga siapa pun dapat menghubungi kapan saja ketika menemukan hambatan atau membutuhkan informasi terkait program MBG.Berikut cara menggunakan layanan SAGI 127.Selain layanan SAGI 127, ada juga kanal lain untuk menyampaikan laporan, pertanyaan, maupun masukan seputar pelaksanaan program MBG. Ini daftarnya.Nomor hotline yang bisa diakses adalah:Layanan ini beroperasi setiap hari Senin sampai Jumat pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Melalui hotline ini, masyarakat bisa menanyakan teknis pelaksanaan Program MBG, melaporkan distribusi pangan, hingga memastikan standar kualitas makanan yang disalurkan.Laporan terkait MBG bisa dikirim langsung ke situs resmi bgn.lapor.go.id dengan cara:Setiap laporan yang masuk akan diverifikasi dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku. Dengan begitu, pengawasan program MBG diharapkan bisa berjalan transparan dan terukur.Melalui hotline dan kanal pelaporan online, masyarakat memiliki akses langsung untuk ikut serta dalam mengawal Program MBG.Lihat juga Video: Bisakah Nol Kasus Keracunan MBG? Ini Kata Anggota Persatuan Ahli Gizi[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-01-16 23:23