JAKARTA, - Kinerja sektor manufaktur Indonesia terus menunjukkan ketangguhannya. Hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor ini mencapai 20,31 juta orang, atau setara 13 persen dari total tenaga kerja nasional. Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan capaian tersebut memperlihatkan bahwa industri manufaktur masih menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dalam menyerap tenaga kerja dan menarik investasi. “Tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,31 juta per Agustus 2025, yang merepresentasikan 13 persen dari total tenaga kerja nasional,” ujar Agus saat membuka pameran IPCS di Pusdiklat Industri Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu . Baca juga: Menperin Tak Mempermasalahkan Puluhan Pabrik Relokasi ke Jateng Tak hanya itu, investasi di sektor manufaktur juga menunjukkan tren positif. Menurut Agus, investasi yang masuk ke industri pengolahan non migas (IPNM) mencapai 37,73 persen dari total investasi nasional pada kuartal III-2025. Sementara, kinerja ekspor manufaktur juga mencatat hasil positif atau tumbuh hingga 11 persen, dengan kontribusi 81 persen dari total ekspor nasional berasal dari sektor manufaktur. “Investasi juga not bad, 37,73 persen dari total investasi yang masuk ke IPNM, ekspor ini luar biasa, ekspor luar biasa kalau tidak salah peningkatannya 9-11 persen dimana tercatat 81 persen dari total ekspor nasional itu berasal dari manufaktur,” paparnya. Baca juga: Dari Pabrik ke Platform Digital, Menperin Dorong Manufaktur RI Masuk Era Kecerdasan Buatan Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal III-2025, kinerja industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,58 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,04 persen. Kinerja itu membuat industri pengolahan non migas berkontribusi 17,39 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Angka ini naik dari posisi kuartal sebelumnya yang sebesar 16,92 persen, sekaligus menjadikan sektor tersebut sebagai penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 1,04 persen. Meski demikian, Menperin menyoroti masih rendahnya tingkat utilisasi kapasitas produksi industri nasional, khususnya di sektor manufaktur, yang rata-rata masih di bawah 60 persen. Itu menunjukkan bahwa masih terdapat ruang besar untuk mendorong peningkatan produktivitas industri dalam negeri. “Artinya masih banyak ruang untuk mengoptimalkan kapasitas produksi nasional, apalagi jika kita selaraskan dengan hasil survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dilakukan oleh Kemenperin. Sejak pertama kali survei IKI dilakukan, nilainya tidak pernah di bawah 50 poin,” paparnya. Baca juga: 6 Sektor Industri Dibanjiri Produk Impor, Kemenperin Wanti-wanti soal Anjloknya Produksi Pada Oktober 2025, IKI tercatat di level 53,5 poin, menandakan optimisme pelaku industri terhadap prospek usaha masih kuat. Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur di Tanah Air berada di level 51,2 poin, yang juga mencerminkan ekspansi sektor industri. “PMI juga lumayan di angka 51,2 persen, walaupun PMI bukan menjadi pegangan bagi Kemenperin dalam merumuskan kebijakan karena kami tetap menggunakan IKI jadi angka 53,5, itu menunjukkan optimisme dari para pelaku usaha, dari para pelaku industri dan optimisme ini harus bisa kita transformasikan, konversikan kepada peningkatan dari utilisasi IPNM,” beber Agus.
(prf/ega)
Menperin: Serap 20,3 Juta Pekerja, Industri Manufaktur Jadi Andalan Ekonomi RI
2026-01-12 04:54:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:49
| 2026-01-12 04:21
| 2026-01-12 02:53
| 2026-01-12 02:32










































