- Di Indonesia, Hari Ayah Nasional diperingati setiap tanggal 12 November. Peringatan ini relatif baru dibandingkan dengan Hari Ibu yang sudah lebih dulu dikenal.Hari Ayah merupakan momen istimewa untuk mengenang, menghargai, dan merayakan sosok ayah yang telah menjadi pilar kekuatan dalam keluarga. Ayah digambarkan sebagai sosok yang seringkali bekerja keras tanpa lelah, memberikan perlindungan, bimbingan, dan kasih sayang yang tulus kepada seluruh anggota keluarga. Melalui peringatan Hari Ayah ini, kita diingatkan akan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter, manjadi tauladan, dan menjadi sandaran bagi anak-anaknya. Di balik kesibukan dan tanggung jawabnya yang besar, ayah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga kita.Baca juga: 21 Juni, Hari Ayah SeduniaPeringati Hari Ayah dengan membacakan puisi istimewa untuk sang pahlawan keluarga. Berikut contoh 15 puisi yang bisa Anda persembahkan untuk ayah tersecinta: Karya Joko Pinurbo Dua puluh tahun yang lalu ia dilepas ayahnya di gerbang depan rumahnya. "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Jangan pulang sebelum benar-benar jadi orang." Dua puluh tahun yang lalu ia tak punya celana, yang cukup pantas untuk dipakai ke kota.Terpaksa ia pakai celana ayahnya. Memang agak kedodoran, tapi cukup keren juga."Selamat jalan. Hati-hati, jangan sampai celanaku hilang." Senja makin menumpuk di atas meja. Senja yang merah tua. Ibunya sering menangis memikirkan nasibnya. Ayahnya suka menggerutu, "Kembalikan dong celanaku!" Haha, si bangsat akhirnya datang. Datang di akhir petang bersama buku-buku yang ditulisnya di perantauan.Ibunya segera membimbingnya ke meja perjamuan. "Kenalkan, ini jagoanku." Ia tersipu-sipu. Saudara-saudaranya mencoba menahan tangis melihat kepalanya berambutkan gerimis. "Hai, ubanmu subur berkat puisi?" Ia tertawa geli. Di atas meja perjamuan jenazah ayahnya telentang tenang berselimutkan mambang. Daun-daun kalender beterbangan."Ayah berpesan apa?" Ia terbata-bata. "Ayahmu cuma sempat bilang, kalau mati ia ingin mengenakan celana kesayangannya: celana yang dulu kaupakai itu." Diciumnya jidat ayahnya sepenuh kenangan. Tubuh yang tak butuh lagi celana adalah sakramen. Celana yang tak kembali adalah testamen. "Yah, maafkan aku. Celanamu terselip di tetumpukan kata-kataku." Baca juga: 61 Ucapan Hari Ayah Nasional Paling Menyentuh, Cocok untuk Ungkapan Terima Kasih ke AyahKarya Pramoedya Ananta ToerSebenarnya, aku ingin kembali, AyahPulang ke teduh matamuBerenang di kolam yang kau beri nama rinduAku, ingin kembaliPulang menghitung buah mangga yang ranum di halamanMemetik tomat di belakang rumah nenek.Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku,Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidurMenggaruk-garuk bantal saat aku bermimpiAku ingin kembali ke rumah, AyahTapi nasib memanggilkuSeekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpiMembawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kataAku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknyaAku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumahAku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah adaMaka aku menungganginyaMaka aku menungganginyaMenyusuri hutan-hutan jatiMelihat rumput-rumput yang terbakar di bawahnyaMenyaksikan sepur-sepur yang batuk membelah tanah JawaArwah-arwah pekerja bergentayangan menuju ibu kota,Mencipta banjir dari genangan air mataArwah-arwah buruh menggiring hujan air mata, mata mereka menyeret banjirKota yang tua telah lelah menggigil, sudah lupa bagaimana bermimpi dan bangun pagiHujan ingin bercerai dengan banjirTapi kota yang pikun membuatnya bagai cinta sejati dua anak manusiaAku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananyaOrang-orang datang ke pasar malam, satu persatu, seperti katamuBerjudi dengan nasib, menunggu peruntungan menjadi kaya rayaTapi seperti rambu lalu lintas yang setia, sedih dan derita selalu berpelukan dengan setiaAku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananyaOrang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak.Dan batasnya adalah ufuk.Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.Yang tertinggal jarak itu juga-abadi.Di depan sana ufuk yang itu juga-abadi.Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukan dan menggenggamnya dengan tangan-jarak dan ufuk abadi ituKarya Chairil AnwarSebuah jendela menyerahkan kamar inipada dunia. Bulan yang menyinar ke dalammau lebih banyak tahu."Sudah lima anak bernyawa di sini,Aku salah satu!"Ibuku tertidur dalam terseduKeramaian penjara sepi selalu,Bapakku sendiri terbaring jemuMatanya menatap orang tersalib di batu!Sekeliling dunia bunuh diri!Aku minta adik lagi padaIbu dan bapakku, karena mereka beradadi luar hitungan: Kamar begini,3 x 4 m, terlalu sempit buat meniup nyawa!Baca juga: 20 Contoh Puisi Hari Pahlawan yang Menyentuh Hati dan InspiratifKarya Amelia Zelianti Ayah Menguras keringat demi mencari nafkah Untuk diriku yang masih kecil ini ayah Menjagaku dan mengajariku arti kehidupan Sang pahlawan hidupku Melindungiku dari terpaan badai apapun Rela menyembunyikan luka di hatinya Ayah selalu memberi kebahagiaan Ayah rela melakukan segalanya demi diriku Ayah sanggup berkorban untuk langkah hidupku Selalu menemani dan memberiku kekuatan Ayah selalu ada di sampingku selamanya Ayah jasamu akan kukekang di hati dan jiwaku Ayahlah pahlawan hidupku yang selalu berkorban dan menjaga setiap detikKarya: Rosi L. SimamoraTak ada yang lebih menenangkan daripadapelukan Abah.Disurutkannya isak tangis Ara,dienyahkannya kekhawatiran Emak,disingkirkannya ngeri hatiku,hingga tak bersisa sejejak pun.Tak ada yang lebih teguh daripada pelukan Abah.Disembuhkannya setiap luka kecewadan dihardiknya pergi setiap badai kehidupan...Hingga sekali lagi engkau percaya,semua akan baik-baik saja. Diam yang Berbicara Di ujung senja, ayah adalah pelabuhan,Tempat kapal rindu berlabuh dengan tenang,Meski badai hidup menderu, ia tetap berdiri,Menjadi mercusuar harap dalam gelap yang panjang.Tangan yang kasar membelah samudra waktu,Menorehkan jejak mesra dalam pasir kehidupan,Setiap tetes keringat adalah hujan rahmat,Menyuburkan tanah hati yang kering kerontang.Ayah bukan hanya bayang-bayang di senja,Ia adalah akar kuat di dasar pohon jiwa,Yang meski disapu angin dan musim berganti,Tetap menumbuhkan daun doa dan cinta abadi. Suatu saat nanti kau akan pergi,Meninggalkan jejak di bumi ini.Namun cintamu akan abadi,Terpatri di relung hati.Ayah, izinkan aku berbaktiSelagi waktu masih adaAgar kelak kita berjumpa lagiDi taman surga yang bahagiaAyah...Dirimu ibarat sang awanYang memayungi kehidupan kamiYang senantiasa memerlukan dirimuSaat sang suria memanaskan sinarnyaAyah..Tidak akan hilang di benak kamiTidak akan pudar dari pandangan kamiBetapa mulianya hatimuBetapa besar jiwamuMenepis ranjau dan duri ituUntuk mencari sesuap nasi buat kamiAyah...Kesabaranmu tetap terbatasSelalu diuji dan dicibirOleh karena kamiYang adakalanya nakalYang adakalanya tidak mahu mendengar katamuAyah...Pengorbanan mu tetap abadi dijiwa kami...Terimakasih ayah... semoga Tuhan memberkatiumur dan amalanmu.Baca juga: 7 Puisi tentang Maulid Nabi 2025: Ungkapan Cinta pada RasulullahPexels/Nothing Ahead Happy Father?s Day 2025! Ini kumpulan ucapan Hari Ayah Sedunia yang dirayakan hari ini.Ayah adalah bayang yang setia mengikuti langkah,Meski sunyi ia tetap hadir tanpa suara,Seperti angin yang menyapa rimbun pepohonan,Membawa keteduhan di tengah panasnya dunia.Bagai peta tua, ayah menuntun jalanku,Menunjukkan arah saat gelap mulai meraja,Setiap coretannya adalah pelajaran berharga,Membentuk cerita hidup penuh makna dan asa.Ayah adalah lentera di lorong tak berujung,Cahaya kecil yang tak pernah padam menyala,Menerangi hati yang kerap kala gelisah,Memberi harapan walau badai datang menggoda.Dalam diam, ia adalah jembatan kokoh,Menghubungkan dunia dengan mimpi-mimpi,Menggenggam erat, tak pernah membiarkan pergi,Ayah, penjaga rahasia jiwa dan waktu sendiri.Dalam senyap malam, kau bagai bintang jauh,Menyinari rindu yang terbuai dalam diam,Jarak menjadi samudra yang sedalam sunyi,Menahan dekap hangat tangan yang kian lelah.Angin membawa kabar dari langkah yang tertinggal,Mengusap wajah yang menunggu tanpa jeda,Setiap helai waktu bergulung melintas ruang,Merajut mimpi akan hadirnya kehadiranmu.Dadaku pelabuhan yang menanti karam bahagia,Setiap detik terombang oleh ombak rindu,Bayangmu tersamar dalam cahaya remang,Membisikkan kasih yang tak pernah pudar.Ayah, kau adalah lagu yang hilang dari mulut angin,Dan aku, penyair yang menulis sajak kesepian,Mencari dalam setiap doa dan hembus napas,Jiwa yang setia, walau terpisah waktu dan jarak.Baca juga: 7 Puisi Kemerdekaan Chairil Anwar yang Membakar Semangat 17 AgustusEngkau bagai pohon oak di tengah padang luas, Akarmu menembus bumi paling keras, Daunmu bak payung saat mentari meluap panas, Cabangmu benteng ketika angin menerjang lepas.Kulit kayumu penuh luka dan goresan, Namun tetap berdiri tegak tanpa keluhan, Burung-burung bersarang di antara dahan, Karena engkau rumah paling aman.Musim berganti, daunmu luruh dan tumbuh, Namun akarmu tak pernah goyah sedikitpun, Seperti dipaku dengan inti bumi,Pohon rindang yang tak pernah minta ditunggu, Hanya memberi naungan sampai akhir waktu.Menurutku ayah adalah buku usang tanpa sampul mewah, Halamannya menguning dimakan usia, tulisannya pudar tapi penuh dengan hikmah, Setiap kalimatnya menyimpan kisah yang tak bernilai harganya. Bukan buku yang dipajang di etalase toko, Tapi tersimpan di rak paling dalam hati, Kubaca ulang setiap kali tersesat di persimpangan jalan kota, Menemukan jawaban yang tak pernah salah arti.Kertas-kertasnya robek di sana-sini, Bekas lipatan tangan yang sering membuka, Tapi kata-katanya abadi dalam ingatan ini, Buku tanpa sampul yang jadi pusaka.Ayah, disetiap langkahku menetes keringatmuDiderai lelahmu, lahir kebahagiaankuDesela senyummu, mengandung banyak arti di hidupku, Tanganmu menjadi saksi kerasnya hidupmu, Mencari nafkah untuk makan sehari-hariMenghidupi keluarga kecil ini. Aku ingin ayah selalu ada disampingku,Selalu membimbingku, Membimbingku, Menasehatiku setiap waktu, Namun wacana tidaklah berjalan dengan keinginan, Engkau pergi dari kehidupan, menuju keabadian. Karya: Dinda NursifaBeruntungnya aku memiliki ayah sepertimu Semua yang engkau lakukan memberikan contoh yang baikSelalu sabar dan penyayang pada keluarganyaBerdiri paling depan untuk kebenaran Engkau adalah ayah terhebatRasanya tak pernah kau tunjukkan wajah sedihSenyum dan tawamu selalu terlihat dari bibirmuEngkau selalu menebar kebaikan pada semua orangSemangatmu pun tak pernah padamAku sayang sekali, wajah ayahkuAyah, bagai pahlawan tanpa jubah,Yang bekerja keras tanpa mengenal lelah,Demi keluarga dan masa depan kami.Aku anakmu, mengucapkan banyak terimakasih atas pengorbananmu, Kepada tanganmu yang kuat selalu melindungi,Senyummu yang tulus selalu menenangkan, Hangat sayangmu yang selalu menemani.Meski kadang lelah terlihat di wajahmu,Kau tetap tegar demi kami, Semua orang tau ayah menjadi saksi perjuanganku, Hingga aku disisi ini, Izinkan aku membalas budimu ayah…Meski tidak setara dengan pengorbananmu.Baca juga: 55 Contoh Puisi Kemerdekaan 17 Agustus, Menyentuh Hati Rambutmu kini putih memenuhi kepalamuSeperti salju yang jatuh dikepalaSetiap helainya menyimpan ceritaTentang pengorbanan dan perjuanganLangkahmu yang tak lagi secepat duluTanganmu yang mulai keriput dan gemetar Punggungmu yang mulai membungkukDan matamu yang mugkin tak lagi tajam Kini saatnya kami menopangmuSeperti dulu engkau menopang kamiAyah, aku selalu mendengarkan nasihatmu Dan berusaha menjadi anak yang berbakti kepadamu Ayah, engkau pahlawan kami Yang tak meminta imbalanmaaka izinkan kami membalas cintamuDengan menemanim hingga akhir waktu Selamat hari ayah, untuk ayah yang telah banyak berkorbanReferensi:
(prf/ega)
15 Contoh Puisi Hari Ayah Menyentuh Hati, Cocok untuk Ungkapan Terima Kasih
2026-01-12 09:13:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 09:10
| 2026-01-12 08:49
| 2026-01-12 07:44
| 2026-01-12 07:21
| 2026-01-12 07:15










































