Volatilitas Global Memanas, Berikut Rekomendasikan Saham Bersinyal Positif

2026-01-12 05:04:58
Volatilitas Global Memanas, Berikut Rekomendasikan Saham Bersinyal Positif
JAKARTA, - Volatilitas pasar global kembali melonjak tajam dan membuat pelaku pasar bersiap menghadapi gejolak pasar pada perdagangan pekan ini. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 8.414 pada akhir pekan lalu, Jumat , PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) mengingatkan bahwa lonjakan risiko global, terlihat dari naiknya VIX lebih dari 18 persen, dapat menjadi sinyal pasar memasuki fase yang lebih dinamis dan sulit ditebak. Equity Analyst IPOT, David Kurniawan, menjelaskan volatilitas pasar global kembali meningkat tajam. Indikator VIX tercatat melonjak 18,16 persen dalam sepekan terakhir. Menurutnya, kondisi ini membuat trader perlu bersiap menghadapi dinamika naik-turun pasar dan mengambil posisi dengan perhitungan risk-reward yang lebih terukur. "Volatilitas pasar global kembali meningkat. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan indikator VIX sebesar 18,16 persen dalam seminggu terakhir. Dengan volatilitas yang tinggi, trader harus siap dengan naik-turunnya dinamika pasar dan sebaiknya ambil posisi dengan risk-reward yang sangat terukur," ujar David Kurniawan lewat keterangan pers, Senin . Baca juga: IHSG Hari ini Berpeluang Menguat ke Level 8.577, Berikut Saham Pilihan Analis Meski IHSG sempat menguat dan investor asing membukukan pembelian bersih Rp 2 triliun di pasar reguler, volatilitas global tetap menjadi faktor dominan yang perlu dicermati. David menjelaskan, sentimen global pekan lalu dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap ekspektasi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dinilai belum memenuhi harapan, serta peringatan International Monetary Fund (IMF) bahwa harga aset berisiko sudah terlalu tinggi dibanding fundamental. Selain itu, pandangan anggota Komite Kebijakan Moneter The Fed masih terpecah mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga pada Desember 2025, karena pasar tenaga kerja dinilai masih cukup kuat. Dari sisi domestik, sentimen datang dari laporan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp 479,7 triliun per Oktober, meski pemerintah menilai kondisinya masih terkendali. Bank Indonesia (BI) juga memutuskan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di posisi 4,75 persen. Baca juga: AI Tak Lagi Jadi Penopang, Saham Teknologi AS Mulai Tertekan Memasuki pekan 24-28 November 2025, David kembali menegaskan volatilitas global menjadi faktor utama yang harus dipantau. Kenaikan VIX yang signifikan menunjukkan ketidakpastian global meningkat, sehingga investor perlu meningkatkan kewaspadaan dalam mengambil risiko. Untuk merespons kondisi tersebut, IPOT mendorong strategi fokus pada saham-saham bersinyal positif, penggunaan booster modal, serta pemanfaatan instrumen obligasi. Seluruh strategi dapat dikelola melalui fitur multi account sehingga tujuan dan risiko investasi dapat dipisahkan lebih jelas, sementara fitur Shared Access dapat dimanfaatkan untuk berinvestasi bersama keluarga atau komunitas. Baca juga: Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Tunggu Sinyal Daya Beli Konsumen AS


(prf/ega)