JAKARTA, - Getirnya kehidupan harus dirasakan anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah sejak usia masih belia.Peran ayah untuk sebagian besar anak sering kali hilang, entah karena perceraian atau kematian.Kini, orang-orang yang hidup tanpa sosok ayah disebut mengalami 'fatherless'.Fatherless adalah kondisi di mana anak tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah, baik secara fisik maupun psikologis, yang berdampak signifikan terhadap tumbuh kembang anak, baik mental, emosional, maupun sosial.Baca juga: Arif Rela Izin Kerja Demi Ambil Rapor Anak, Komitmen Lawan Fenomena FatherlessKondisi itu yang dialami perempuan bernama Ester (bukan nama sebenarnya, 35). Di usia yang menginjak lima tahun, ia justru kehilangan sosok kedua orangtuanya karena bercerai."Papah pergi gitu saja, mamah juga sih," ungkap Ester saat diwawancarai Kompas.com di kawasan Jakarta Selatan, Rabu .Diproduksi menggunakan AI Ilustrasi fatherless, anak tumbuh tanpa sosok ayah.Sejak itu, kehidupan Ester dan ketiga kakaknya berubah total karena harus menjalani hidup tanpa orangtua, serta tinggal bersama kakek dan neneknya.Di usianya yang masih belia, Ester belum begitu paham dengan apa yang keluarganya alami.Dalam hati, ia selalu bertanya mengapa kedua orangtuanya bisa berpisah dan tidak lagi bisa mendampingi keempat anaknya."Saya paling dekat sama papah, kan. Dari kecil suka dibawa ke kantor, diajak ke mana-mana. Saya bingung saja sampai umur enam sampai tujuh tahun mencerna kondisi yang terjadi. Sepanjang sekolah dasar, sebenarnya saya juga masih bingung kok bisa begini, bisa begitu," sambung Ester.Namun, seiring bertambahnya usia, ia paham mengapa kedua orang tuanya bisa bercerai dan tidak lagi bisa mendampinginya menjalani kehidupan.Baca juga: Refleksi Hari Ayah Nasional, Saatnya Menghapus Budaya FatherlessKini, ia justru merasa beruntung karena bisa diasuh dan dididik oleh kakek dan neneknya saat kedua orangtuanya pergi.Ester bilang, kakek dan neneknya begitu menyayangi keempat cucunya, namun memang didikannya sangat keras sehingga sangat disiplin.Didikan keras itu sengaja diberikan oleh sang kakek yang selama ini berperan menggantikan sosok ayah agar keempat cucunya bisa tumbuh menjadi orang yang tangguh."Kakek sebagai pengganti papah, sepertinya dia tahu umurnya tidak lama lagi, jadi mengajari kita sangat keras. Saya bersaudara, kan, mayoritas perempuan, jadi kakek benar-benar keras mengajari ini dan itu. Dia sering bilang, 'Kalau kakek sudah tidak ada, kalian harus hidup jadi orang yang tangguh'," ucap Ester.Benar saja, tidak lama sang kakek meninggal dunia, sehingga membuat Ester lagi-lagi kehilangan sosok orang tua laki-laki dalam hidupnya.Meskipun merasa beruntung karena bisa diasuh oleh kakek dan neneknya, Ester tetap sering merindukan sosok ayah dalam hidupnya."Sebenarnya, meskipun ada kakek, saya sendiri kangen papah. Dan selalu mempertanyakan, kenapa dia pergi? Kenapa cuma duitnya saja yang datang, orangnya tidak ada? Kenapa dia tidak menjangkau kami padahal masih satu kota? Itu waktu SD sampai SMA," ujar Ester.Padahal, usai kematian kakeknya, Ester sempat berharap ayahnya bisa kembali mengambil peran untuk anak-anaknya.Namun, harapan itu pupus, ia tetap harus melanjutkan hidupnya tanpa sosok ayah.
(prf/ega)
Jerit Hati Para Anak Fatherless: Kehilangan Sosok Ayah Sangat Berat
2026-01-11 22:18:50
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:32
| 2026-01-11 21:31
| 2026-01-11 21:19
| 2026-01-11 20:40
| 2026-01-11 20:28










































