- Rektor Universitas Indonesia (UI) Heri Hermansyah menyarankan pemerintah untuk kembali memeriksa atau mereview izin konversi hutan untuk komersial.Menurut Heri, hal ini penting untuk mencegah terulangnya bencana seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar)."Pemerintah perlu mereview kembali izin konversi hutan terutama di wilayah yang merupakan aliran air/penyangga air saat curah hujan tinggi," kata Heri melalui keterangan tertulis, Minggu .Heri menilai, bencana yang yang terjadi di Aceh, Sumut, dan Sumbar semakin menegaskan perlunya menjaga kelestarian hutan dari kerusakan.Baca juga: UI Buka 141 Lowongan Dosen Tetap 2026, Fakultas Kedokteran Butuh BanyakHal tersebut, terlihat dari banyaknya kayu gelondongan yang terbawa saat banjir bandang terjadi."Peristiwa di tiga provinsi itu merupakan gabungan dua hal yaitu cuaca yang kurang bersahabat dan kerusakan alam," ujarnya.Oleh karena itu, Heri menilai pemerintah harus tegas melarang adanya pembalakan liar di wilayah hutan.Ia kemudian mencontohkan apa yang dilakukan di Jawa Barat dalam mencegah terulangnya peristiwa banjir yang terjadi awal tahun 2025.Pemerintah daerah berupaya merapikan aliran air, menjaga hutan supaya kembali lestari, mereview aktivitas di hutan/resapan air dari aktivitas komersial dan menumbuhkan kearifan lokal.Baca juga: UI Buka 141 Lowongan Dosen Tetap, Cek Syarat dan Deadline Lamarnya“Semua itu dilakukan untuk menjaga kesetimbangan alam. Hal ini dapat dieskalasi di wilayah remote yang saat ini kena bencana," ungkapnya.Heri pun menegaskan, para akademisi UI dapat membantu pemerintah mereview kembali policy dan regulasi terkait izin konversi hutan yang ada.Kompas.com/Priska Birahy Kawasan konservasi hutan mangrove di pesisir Desa Waiheru Kecamatan Baguala Ambon Kota Ambon dirusak dengan modus kupas kulit pohon , Jumat .Mengingat UI sangat peduli dengan kelestarian lingkungan yang ada di sekelilingnya."Kita bisa membantu mendorong akselerasi strategi reforestasi untuk menjaga hutan dan isinya lestari," jelasnya.Sebelumnya, menurut Kementerian Kehutanan (Kemenhut), kayu gelondongan di lokasi banjir Sumatera terdiri dari banyak jenis pohon.Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Krisdianto, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil sampling identifikasi di Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, kayu itu tidak berasal dari satu jenis saja.“Ada jenis Mempisang (Mezzettia sp) dari kelompok rimba campuran, Tanjung (Mimusops sp) dari kelompok kayu indah 2, Simpur (Dillenia sp) dari kelompok rimba campuran, Pasang (Quercus sp) dari kelompok kayu indah 2, Nyatoh (Madhuca sp) dari kelompok kayu komersial 1, dan batang sawit,” kata Krisdianto kepada Kompas.com, Jumat .Baca juga: UI Terima Pernyataan Maaf Ko-Promotor Bahlil LahadaliaKelompok kayu komersial, kayu rimba campuran, dan kayu indah sebagaimana disebut di atas merupakan klasifikasi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 163/Kpts-II/2003. Klasifikasi itu dibuat berdasarkan pengenaan iuran kehutanan.
(prf/ega)
Rektor UI Ingatkan Pemerintah Kembali "Review" Izin Konversi Hutan
2026-01-12 16:28:19
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 15:40
| 2026-01-12 15:28
| 2026-01-12 14:14
| 2026-01-12 14:10










































