Fenomena Bukit Menangis di NTB, Harus Antisipasi Ancaman Banjir Longsor

2026-01-12 22:16:20
Fenomena Bukit Menangis di NTB, Harus Antisipasi Ancaman Banjir Longsor
MATARAM, - Fenomena bukit menangis di sejumlah bukit di Sebelum Bumbung dan Sembalun Lawang, saat curah hujan tinggi, Senin sore, dianggap sebagai hal biasa oleh masyarakat di Sembalun."Biasa itu kalau curah hujan tinggi pasti terjadi aik ilong bahasa lokal di Sembalun atau air terjun dadakan.""Biasa itu, tapi sekarang sudah berhenti, sudah aman, saya kirimkan fotonya ya, bukit bukit sudah normal kembali, " ujar Sunardi, Kepala Desa Sembalun Bumbung kepada Kompas.com, Selasa . Dia mengatakan air terjun dadakan seperti yang beredar di media sosial itu, tidak terjadi kalau curah hujan tidak tinggi. Baca juga: Kejati Periksa 32 Anggota DPRD NTB dalam Kasus GratifikasiWarga tidak terlalu khawatir karena sudah biasa, hanya saja yang penting sekarang adalah mengantisipasi pendangkalan di hulu. "Kalaupun dikeruk percuma, karena di hilir tidak pernah ada upaya pengerukan untuk antisipasi pendangkalan, karenanya areal persawahan tergenang karena volume air sungai besar hingga meluap, "kata Sunardi. Dia juga mengkhawatirkan curah hujan yang besar dan terus menerus sehingga mereka was was menghadapi kemungkinan banjir bandang yang sangat berbahaya. Apalagi, wilayah Sembalun rawan banjir bandang. Dikatakannya, masyarakat Sembalun Bumbung berharap Pemda Lombok Timur dan Pemprov NTB serta Balai Wilayah Sungai (BWS) rutin mengeruk sungai agar tidak meluap ke pemukiman dan persawahan warga. Sebab, sungai-sungai yang sudah dangkal butuh perhatian dari BWS. Jika curah hujan tinggi akan sangat berbahaya karena dikhawatirkan banjir.Sungai-sungai yang butuh perhatian adalah sungai Pupuk Barat, Lokakarya Dongol dan Lokak Bale Ijuk. Royal Sembalun, pemerhati lingkungan di Sembalun, membenarkan fenomena air terjun dadakan tersebut tiap tahun terjadi, akan tetapi tidak sebanyak titik kemarin. Baca juga: Polda NTB: Ada 12 Orang Lain yang Terlibat Perusakan Rumah Brigadir Rizka"Untung saja terjadi cuman 30 menit, yang parah adalah jika meluapnya air sungai hingga meluap ke areal persawahan warga, " kata Royal. Royal juga mengingatkan agar masyarakat waspada karena tahun 2006 di Sembalun terjadi banjir bandang dan mengakibatkan korban jiwa.  "Jadi fenomena itu sangar berpotensi mengakibatkan bencana jika hujan  panjang dan air terjun dadakan di perbukitan itu tak segera berhenti, " katanya. Fenomena air terjun dadakan tersebut, membawa material lumpur, bebatuan hingga ranting pohon dari perbukitan ke areal persawahan. Di beberapa titik jalur pusuk Sembalun terjadi longsor yang membahayakan kendaraan. 


(prf/ega)