– Di media sosial maupun kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kalimat seperti “yang sabar ya, lihat sisi positifnya saja,” atau “kamu harus tetap happy, jangan sedih terus.” Sekilas terdengar baik, tapi respons seperti ini dapat berubah menjadi sikap yang justru merugikan secara emosional. Fenomena inilah yang dikenal sebagai toxic positivity.Istilah toxic positivity mulai populer sejak 2011 melalui buku The Queer Art of Failure karya J. Halberstam, ketika budaya masyarakat mulai banyak menuntut sikap positif dalam segala kondisi. Baca juga: Hindari 8 Kalimat Toxic Ini ke Pasangan Jika Ingin Hubungan LanggengPadahal, manusia wajar mengalami seluruh spektrum emosi, bahagia, marah, kecewa hingga sedih, dan menekan emosi negatif justru dapat memperburuk kondisi mental.Psikolog Dr. Sheena Kumar menjelaskan, toxic positivity bukanlah istilah klinis, tetapi fenomena yang banyak dibahas dalam psikologi modern.Menurutnya, toxic positivity muncul ketika seseorang dipaksa untuk tetap positif atau diarahkan untuk berpikir baik-baik saja di saat yang tidak tepat, termasuk saat sedang mengalami tekanan emosional.“Dalam definisinya, toxic positivity adalah ketika positivitas didorong pada waktu yang salah atau dengan cara yang mematikan pengalaman emosional seseorang,” kata Kumar, disadur dari Hello Magazine, Kami .“Positivitas menjadi sebuah tuntutan, bukan lagi bentuk dukungan, sehingga orang dapat merasa tidak didengar atau dianggap remeh,” tambah dia. Ia juga menambahkan bahwa menekan emosi negatif sebenarnya membuat tubuh bekerja lebih keras.Penelitian menunjukkan bahwa ketika kita menekan atau menyangkal emosi, sistem stres tubuh menjadi lebih aktif. “Mendorong emosi pergi tidak membuatnya hilang, tetapi justru membuatnya semakin intens dan dapat meningkatkan gejala kecemasan atau depresi dari waktu ke waktu,” ujarnya.Toxic positivity dapat muncul dalam hubungan personal, pertemanan, lingkungan kerja, bahkan pada cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri.Mindset coach Aron Jameson mengatakan, tanda-tanda toxic positivity sering muncul dari cara seseorang merespons perasaan orang lain.“Biasanya terlihat ketika seseorang mengecilkan atau mengabaikan perasaan sedih atau frustrasi melalui frasa seperti ‘semua terjadi karena alasan’, atau ‘kamu harus tetap positif’,” ujarnya.Baca juga: 4 Tanda Cemburu yang Toxic dan Merusak Hubungan, Kenali Sebelum TerlambatMenurut Jameson, respons seperti ini dapat membuat seseorang merasa bersalah atas emosi yang sebenarnya wajar.
(prf/ega)
Apa Itu Toxic Positivity? Kenali Bahayanya bagi Kesehatan Emosional
2026-01-12 06:10:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:03
| 2026-01-12 05:39
| 2026-01-12 05:34
| 2026-01-12 05:25










































