Sempat-sempatnya Trump Serang Oposisi Kala Ucapkan Selamat Natal

2026-02-05 07:33:57
Sempat-sempatnya Trump Serang Oposisi Kala Ucapkan Selamat Natal
Donald Trump menyelipkan serangan politik terhadap oposisi saat menyampaikan ucapan 'selamat Natal'. Trump menyebut Partai Demokrat dengan istilah 'sampah kiri radikal' di momen perayaan Natal.Pernyataan itu Trump sampaikan di media sosial Truth miliknya. Trump mengucapkan selamat Natal kepada semua orang."Selamat Natal untuk semua, termasuk Sampah Kiri Radikal yang melakukan segala upaya untuk menghancurkan Negara kita, tetapi gagal total," kata Trump di platform Truth Social miliknya sebagaimana dilansir AFP, Kamis (25/12/2025).Orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) itu bahkan mengklaim AS di bawah kepemimpinannya memiliki kemajuan. Ada yang Trump banggakan, yakni dia mengklaim angka kejahatan di AS sudah turun dan menyebut ekonomi AS menguat."Kita tidak lagi memiliki perbatasan terbuka, pria dalam olahraga wanita, transgender untuk semua orang, atau penegakan hukum yang lemah. Yang kita miliki adalah pasar saham dan dana pensiun 401K yang mencetak rekor, angka kejahatan terendah dalam beberapa dekade, tidak ada inflasi, dan kemarin, PDB (Produk Domestik Bruto) 4,3%, dua poin lebih baik dari yang diperkirakan," ucapnya. Lebih lanjut, Trump mengecam pihak oposisi, yang telah mengkritik pemerintahannya atas penanganan biaya hidup.Kritik itu muncul sehari setelah data Departemen Perdagangan menunjukkan ekonomi tumbuh sebesar 4,3 persen pada kuartal ketiga - PDB tertinggi dalam dua tahun. Laporan tersebut juga menunjukkan indeks harga untuk pembelian domestik naik 3,4 persen - angka inflasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2,0 persen pada kuartal kedua.Sebelum momen Natal, Demokrat mengkritik Departemen Kehakiman atas lambatnya rilis dan banyaknya penyuntingan ribuan catatan dari penyelidikan terhadap pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein, yang dulunya adalah teman Trump.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 07:03