Kerap Turun ke Akar Rumput, Seskab Teddy Dinilai Perkuat Praktik Empathetic Governance

2026-01-12 05:37:00
Kerap Turun ke Akar Rumput, Seskab Teddy Dinilai Perkuat Praktik Empathetic Governance
Jakarta - Akademisi Universitas Nasional, Amsori Baharudin Syah, menilai kiprah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menandai pergeseran penting dalam praktik kepemimpinan birokrasi di Indonesia.Tidak lagi sekadar menjalankan peran teknokratis, Teddy justru memilih turun langsung ke akar rumput, seperti mengunjungi sekolah rakyat.“Apa yang dilakukan Teddy Indra Wijaya adalah bentuk dari pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” ujar Amsori dalam keterangannya, Sabtu .AdvertisementAmsori menilai pendekatan Teddy menghadirkan model kepemimpinan publik yang jarang terlihat pada pejabat setingkat kabinet. Dalam banyak birokrasi modern, pejabat umumnya berfungsi sebagai pengambil keputusan strategis di balik ruang rapat. Namun Teddy, kata dia, justru memindahkan sebagian ruang kerjanya ke tengah masyarakat.“Di mata saya, Teddy hadir sebagai wujud negara yang mengasuh, bukan mengatur. Ini penting, karena negara tidak cukup hanya membuat aturan, negara harus hadir dalam rasa, hadir dalam kehidupan warganya,” jelas Amsori.Kehadiran fisik pejabat tinggi negara, lanjut Amsori, memiliki dampak psikologis kuat. Masyarakat merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Dalam situasi di mana jarak antara pemerintah dan rakyat kerap terasa lebar, Teddy justru menembus batas tersebut.Amsori menyebut gaya kepemimpinan Teddy sejalan dengan konsep “empathetic governance”, sebuah pendekatan dalam teori kepemimpinan publik yang menekankan kehadiran emosional, bukan hanya struktural.Ia menjelaskan bahwa menurut teori Hannah Arendt tentang “power as acting in concert”, kekuasaan politik sejati muncul ketika pemimpin berada dalam ruang yang sama dengan rakyat dan membangun kepercayaan melalui tindakan konkret.Kekuasaan bukan berasal dari jabatan, melainkan dari keberhasilan membangun hubungan sosial.“Teddy tidak sedang menunjukkan kuasa administratif, tetapi kuasa moral. Ia membangun legitimasi dengan mendengarkan, bukan memerintah,” kata Amsori.Pendekatan ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi birokrasi modern yang menuntut pemimpin untuk adaptif, inklusif, dan dekat dengan realitas sosial.Bagi Amsori, langkah Teddy mengunjungi sekolah rakyat merupakan simbol dari semangat state nurturing, negara yang hadir untuk merawat, menguatkan, dan memanusiakan warganya.Ia menilai gestur sederhana seperti duduk bersila bersama anak-anak, berbicara santai dengan orang tua, atau mendengarkan keluhan tanpa catatan protokol justru menjadi tindakan administratif paling kuat.“Banyak pejabat bicara soal pelayanan publik, tetapi sedikit yang hadir sebagai manusia. Teddy melakukannya. Itu yang membuat pesan kepemimpinannya berbeda,” sambungnya.Gestur responsif semacam ini, menurut Amsori, juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu bekerja.Amsori menambahkan bahwa perubahan gaya kepemimpinan seperti ini sangat relevan dalam konteks politik kontemporer Indonesia.Di tengah tingkat skeptisisme publik terhadap pejabat negara, pendekatan empatik dan rendah hati dapat menjadi jembatan untuk memulihkan kepercayaan.“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar,” tutup Amsori. 


(prf/ega)