JAKARTA, - Indonesia disebut bisa menjadi pusat produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan di dunia karena banyaknya limbah produk olahan sawit.Head of Business Development Department, Green Energy & Chemicals Tripatra, Muhammad Farras Wibisono, mengungkapkan, SAF diperlukan sebagai bahan bakar yang bisa menekan emisi karbon dari operasional pesawat terbang.“Nah oleh karena ini tentunya demand atau permintaan dari pasar itu meningkat secara drastis. Jadi kita targetkan di 2030 ada 90 juta ton,” kata Farras dalam jumpa pers Sosialisasi Limbah Cair Sawit sebagai Bahan Bakar Pesawat di Jakarta, Kamis .Baca juga: Emisi Avtur dari Limbah Cair Sawit Lebih Rendah 79,6 PersenNamun, target tersebut sulit dicapai karena keterbatasan bahan baku SAF.Oleh karena itu, kata Farras, Indonesia berpeluang menjadi pusat produksi SAF dunia karena memiliki banyak sekali limbah dari produksi sawit.“Indonesia yang punya banyak seri bahan baku, itu bisa menjadi pusat dari industri SAF di dunia,” ujar Farras.Menurutnya, saat ini terdapat sejumlah teknologi untuk memproduksi SAF yang berbasis biomassa. Namun, beragam teknologi itu belum cocok untuk diterapkan secara komersil.Satu-satunya pilihan yang saat ini bisa digunakan adalah teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA).Teknologi ini mengolah lemak nabati dan limbah minyak dengan menghilangkan oksigen melalui proses hidrogenasi.“Kita tahu sendiri Indonesia sangat kaya akan limbah minyak,” tutur Farras.Baca juga: Guru Besar IPB: Limbah Cair Pabrik Sawit Punya Nilai Ekonomi Jika DiolahSejumlah bahan baku yang bisa diolah itu adalah limbah cair sawit atau palm oil mill effluent (POME), used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) atau produk olahan sawit tinggi asam lemak bebas, fan empty fruit bunch (EFB) oil atau tandan kosong sawit.Setiap bahan baku itu memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun, yang saat ini menjadi pilihan paling tepat adalah POME dan UCO.Minyak jelantah menjadi bahan baku yang paling banyak digunakan oleh produsen SAF di dunia.“Jadi kalau misalkan kita bicara secara potensi Indonesia itu sangat besar, jadi enggak hanya di bagian waste oil tapi juga kita bicara tentang limbah lainnya, biomassa terutama, kita bisa buat total sekitar 18 juta ton SAF tiap tahunnya,” tutur Farras.Hasil kajian Tim Indonesia Expert yang diisi oleh Tripatra, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dan pihak lain berhasil membuat POME diakui sebagai bahan baku SAF oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
(prf/ega)
Banyak Limbah Sawit, Indonesia Bisa Jadi Pusat Produksi SAF Dunia
2026-01-13 21:36:27
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 22:01
| 2026-01-13 20:52
| 2026-01-13 20:43
| 2026-01-13 20:07
| 2026-01-13 20:04










































