NUNUKAN, – Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, harga cabai di Nunukan melonjak.Berbagai komoditas di Nunukan dikirim dari daerah lain, seperti Sulawesi Selatan (Sulsel) menggunakan kapal laut. Sehingga apabila ada kapal docking atau cuaca buruk yang mempengaruhi keterlambatan pengiriman, maka akan turut berdampak pada harga.Kabid Perdagangan pada Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Nunukan, Dior Frames mengatakan, berdasarkan pantauan di pasar-pasar tradisional Nunukan, harga cabai sudah menyentuh angka Rp 80.000 per kilogram."Dari yang tadinya Rp 60.000 sekarang menjadi Rp 80.000 per kilogramnya,’’ katanya saat ditemui Selasa .Baca juga: Jelang Nataru, Harga Cabai di Banyumas TinggiKenaikan cabai disebabkan stok yang mulai menipis. Sebab selama ini, mayoritas sayur dan Sembako di Nunukan didatangkan dari Sulawesi Selatan (Sulsel) dan sejumlah daerah lain, bahkan dari Malaysia.Pengiriman komoditas tersebut menggunakan kapal laut, sehingga ketika ada kapal docking atau cuaca di laut tidak bagus, keterlambatan pengiriman barang menjadi alasan harga naik di pasaran.Meski begitu, Dior memastikan, sementara ini stok masih tergolong aman.‘’Sementara stok masih aman saja dan mencukupi. Kecuali kalau tiba-tiba ada lonjakan pembelian, penimbunan, atau panic buying. Untuk sekarang, stok aman, kapal datang sesuai jadwal,’’ jelas Dior.Baca juga: Lima Rumah di Pedalaman Nunukan Ludes Terbakar, Dipicu BBM Merembes ke Mesin PompaDior menambahkan, kenaikan harga cabai sebenarnya menjadi keuntungan bagi petani cabai lokal di Nunukan.Kondisi cabai yang masih fresh membuat harga cabai lokal lebih mahal ketimbang cabai Sulawesi.‘’Kalau cabai lokal lebih mahal karena lebih fresh. Harganya Rp 100.000 per kilogramnya. Tapi masalahnya, ketersediaan cabai lokal Nunukan itu sifatnya insidentil. Jadi hanya ada ketika musim panen,’’ imbuhnya.Meski sudah mengalami kenaikan sekitar Rp 20.000 dibanding harga awal, potensi kenaikan harga cabai rawit masih akan terjadi.Sebagaimana dikatakan Dior, momen Nataru juga menjadi alasan atas kondisi tersebut.‘’Potensi kenaikan harga cabai rawit masih ada. Kapal dari Sulawesi itu berhenti berlayar pada 29 Desember 2025 dan kembali berlayar tanggal 1 Januari 2026. Artinya ada celah (rens) sekitar 4 hari. Dan saat itulah potensi kenaikan harga biasanya terjadi,’’ lanjutnya.Sementara itu, untuk harga komoditas Sembako, Dior mengatakan penjualan di pasar dan agen masih di batas harga normal dan standar.Baca juga: Cabai Jawa, Rempah Asli Nusantara yang Kini Didorong Kembali oleh Petani Muda SemarangHasil pantauan petugas di pasar-pasar tradisional, beras medium dibanderol Rp 14.000 – Rp 14.500/kg, sementara yang premium di kisaran Rp 16.000 – Rp 16.200/kg.Tepung dibanderol Rp 10.000 – Rp 11.000, dan untuk tepung merek Segitiga Biru, harganya Rp 13.000/kg.‘’Yang stoknya berkurang mungkin minyak goreng ya. Pemkab Nunukan sedang menyalurkan Bansos untuk warga miskin. Dan stok minyak goreng di agen jauh berkurang. Tapi secara umum, ketersediaan Sembako masih aman,’’ kata Dior.
(prf/ega)
Perjalanan Panjang Cabai ke Nunukan: Dari Sulsel hingga Tembus Rp 80.000
2026-01-12 16:43:30
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 17:37
| 2026-01-12 17:31
| 2026-01-12 17:22
| 2026-01-12 16:53
| 2026-01-12 16:44










































