Munafik Ekologis

2026-01-12 06:30:53
Munafik Ekologis
BAIK secara individu maupun institusi, kita semangat berbicara tentang kepedulian pada bumi, tapi tindakan kita justru merusaknya.Kita ramai-ramai meluncurkan slogan hijau, kampanye ramah lingkungan, dan keberlanjutan, tetapi hanya secara formal.Berbagai perusahaan menulis “green commitment”, tapi limbahnya tetap mencemari sungai. Birokrat memberi ceramah tentang kelestarian, tetapi tetap saja menandatangani izin eksploitasi yang merusak daerah resapan air.Dalil “kebersihan bagian dari keimanan” kita baca, tapi tidak merasa dosa besar ketika melemparkan kantong plastik berisi sampah ke sungai.Kita diberi amanah ekologis oleh Tuhan, tapi kita khianat. Amanah ekologis hadir dalam bentuk hutan yang harus dijaga, pesisir yang harus ditata, udara yang harus dipelihara, dan ruang hidup yang harus dilindungi.Namun, kita mengubah amanah menjadi komoditas. Kita menukar mata air dengan tambang, mengorbankan hutan demi keuntungan cepat, atau membiarkan tata ruang dilanggar oleh kekuatan modal.Kita berjanji kepada alam akan merehabilitasinya, tapi selalu ingkar. Rencana pengendalian banjir tidak pernah selesai, janji energi bersih hanya berhenti pada konferensi.Baca juga: Saatnya Publik Bertindak: Mereka Sudah Terlalu JauhProgram rehabilitasi mangrove ditunda. Komitmen ekologis hanya kosmetik, bukan kehendak moral.Itulah yang saya maksud dengan munafik ekologis, yang diambil dari ajaran spiritual agama yang menunjuk tanda munafik dengan tiga ciri: apabila bicara berdusta, apabila diberi amanah dikhianati, dan apabila berjanji tidak ditepati. Munafik ekologis adalah perilaku aktif merusak alam sambil mengaku melindungi.Tidak ada yang salah dengan pemanfaatan alam untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Alam memang disediakan Tuhan sebagai sumber kehidupan. Pangan untuk perut, air untuk menjaga tubuh, dan energi untuk menggerakkan peradaban.Sejak manusia pertama diciptakan, pemanfaatan alam adalah bagian dari takdir dan tugasnya. Namun, kesalahan besar dimulai ketika manusia mereduksi alam hanya sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai amanah Ilahi yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab.Sehubungan dengan itu, perlu ada teologi eksploitasi alam sebagai pijakan akidah lingkungan. Bahasa teknisnya adalah ekoteologis.ANTARA FOTO/Yudi Manar Warga mengamati sampah kayu gelondongan pasca banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu . Sampah kayu gelondongan tersebut menumpuk di pemukiman warga dan sungai pasca banjir bandang pada Selasa . Ekoteologis mengajarkan bahwa kita boleh mengambil, tetapi tidak boleh merusak. Boleh memanfaatkan, tetapi wajib menjaga keseimbangan.Ketika alam dikeruk tanpa batas, tanpa nilai, dan tanpa kesadaran spiritual, kita sesungguhnya sedang menggali liang kuburnya sendiri. Bahkan, eksploitasi alam tanpa moral bukan hanya penghancuran lingkungan, tapi juga bunuh diri peradaban.Baca juga: Alam Takambang Jadi GuruAlam yang dijarah akan berhenti memberi. Sungai yang dikotori tidak lagi mengalirkan kehidupan. Tanah yang terus dieksploitasi tanpa pemulihan akan kehilangan daya tumbuh.


(prf/ega)