– Dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Tengah sejak akhir November 2025 memicu krisis energi dan sanitasi yang berkepanjangan.Hingga pertengahan Desember, warga di sekitar Kota Takengon masih kesulitan mendapatkan gas elpiji dan air bersih akibat lumpuhnya jalur distribusi logistik serta rusaknya infrastruktur dasar.Kondisi tersebut memaksa sebagian warga kembali menggunakan kayu bakar untuk kebutuhan memasak dan memanfaatkan air sungai untuk aktivitas domestik, seperti mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga.Pantauan di kawasan pintu keluar air Danau Lut Tawar, tepatnya di Desa Hakim Bale Bujang, Kecamatan Lut Tawar, Rabu , puluhan warga tampak mengumpulkan gelondongan kayu yang mengapung di aliran Sungai Peusangan.Baca juga: Teupin Mane Bisa Dilalui, Aceh Tengah dan Bener Meriah Masih TerisolasiKayu-kayu tersebut merupakan material sisa longsoran pegunungan yang terbawa arus saat bencana banjir bandang dan longsor terjadi beberapa pekan lalu.Peralihan warga ke kayu bakar bukan tanpa sebab. Terputusnya akses jalan darat utama menuju Aceh Tengah menghambat distribusi energi dari Pertamina.Akibatnya, gas elpiji ukuran 3 kilogram maupun 12 kilogram langka di pasaran, sehingga aktivitas memasak warga terancam terhenti.“Kami kesulitan mendapatkan gas elpiji karena pasokan tidak ada sudah hampir tiga minggu. Kayu hanyut ini menjadi solusi terakhir agar dapur tetap bisa mengebul,” ujar Wijaya, salah seorang warga Desa Hakim Bale Bujang.Aktivitas memunguti kayu hanyut ini telah berlangsung selama dua hari terakhir.Warga berupaya mengumpulkan kayu berbagai ukuran sebelum material tersebut hanyut lebih jauh ke Sungai Peusangan dan berpotensi menyumbat pintu air, yang dapat memicu persoalan baru seperti banjir susulan.Baca juga: Aceh Tengah Padam Lampu Total, Warga Numpang Ngecas ke Mobil KopiSelain krisis energi, warga Aceh Tengah juga menghadapi krisis air bersih. Hingga kini, distribusi air bersih ke rumah-rumah warga di Kampung Hakim Bale Bujang dan sekitarnya masih terputus total akibat kerusakan jaringan pipa pascabencana.Kondisi ini memaksa warga turun langsung ke sungai untuk mencuci pakaian, peralatan dapur, hingga membersihkan kendaraan.Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait risiko kesehatan, mengingat kualitas air sungai pascabencana belum tentu layak untuk kebutuhan sanitasi rumah tangga.Namun, bagi warga, tidak ada pilihan lain selama jaringan air bersih belum diperbaiki oleh pemerintah daerah.Warga pun mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah agar segera melakukan normalisasi menyeluruh, tidak hanya membersihkan material sisa banjir di sepanjang Danau Lut Tawar dan Sungai Peusangan, tetapi juga memprioritaskan pemulihan jalur distribusi logistik dan perbaikan jaringan air bersih.Baca juga: Kabar Dugaan Warga Tapak Moge Meninggal Cari Beras, Kepala Desa dan Kominfo Aceh Tengah Klarifikasi: Hoaks
(prf/ega)
Dapur Hampir Tak Mengepul, Warga Aceh Tengah Andalkan Kayu Sisa Banjir untuk Masak
2026-01-14 02:16:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-14 01:56
| 2026-01-14 00:50
| 2026-01-14 00:42
| 2026-01-13 23:59










































